Penulis: Irma Gustiana Andriani, M.Psi, Psi

Saat ini sedang marak aktivitas bermain sambil belajar pada anak, yang dikenal dengan sensory play, umumnya untuk balita tetapi dapat dimainkan pula oleh anak-anak setingkat sekolah formal. Istilah ini memang masih termasuk baru dikalangan para orang tua, sehingga banyak yang belum mengetahui tentang apa itu sensory play dan apa manfaat yang bisa didapatkan dengan memainkannya?

Sensory play berasal dari kata sense dan play. Kata sense sering diartikan sebagai 5 panca indera yakni penglihatan (mata), penciuman (hidung), pendengaran (telinga), perabaan (kulit) dan perasa/pengecapan (lidah), serta ditambah dengan pergerakan (proprioseptif; otot dan sendi) serta keseimbangan (vestibular; telinga bagian dalam). Sedangkan kata play memiliki arti bermain. Sehingga sensory play adalah permainan yang mendorong anak-anak untuk menggunakan salah satu indera atau lebih, seperti permainan mengejar cahaya, main tebak suara, main mencium beragam bau, main lompat-lompat mengikuti garis, main pasir dan air, dan sebagainya.

Perkembangan seorang anak, selain karena faktor genetika yang diperoleh anak sejak dalam kandungan juga dipengaruhi oleh stimulus yang diberikan oleh lingkungan sekitarnya. Stimulus yang diterima dan masuk ke dalam otak anak, akan diproses oleh sistem syaraf dan menghasilkan sensasi yang mendorong indera anak untuk bergerak. Makin banyak stimulus yang diberikan lingkungan pada anak, semakin banyak anak akan mendapatkan pengalaman yang menyenangkan. Tentunya, setiap stimulus akan menghasilkan respon yang berbeda, dan tugas orang tua/pengasuh untuk memfasilitasi anak-anaknya mendapatkan banyak pengalaman agar bank data otak semakin beragam.

Ada beberapa istilah yang perlu diketahui orang tua dalam kegiatan bermain sensory play, di antaranya:

  1. Visual, yakni semua aktivitas yang berkaitan dengan indera penglihatan, misalnya permainan yang penuh dengan warna, bentuk, ukuran dan sebagainya.

  2. Auditory, yakni semua aktivitas yang berkaitan dengan indera pendengaran, misalnya membedakan bunyi beras dalam botol dengan beras dalam kaleng, dan sebagainya.

  3. Tactile, semua aktivitas yang berkaitan dengan indera peraba (tangan), misal bermain pasir, air, biji-bijian, water beads, pompom, dan sebagainya.

  4. Smell and Taste, semua aktivitas yang berkaitan dengan indera penciuman dan pengecapan, misal semua yang berhubungan dengan sesuatu yang berbau atau yang berasa ketika aktivitas makan.

  5. Vestibular dan Proprioseptif, semua aktivitas yang berkaitan dengan indera gerak dan keseimbangan, misalnya bermain balok titian, trampoline, melompat, berlari, dan sebagainya.

 

Apa saja manfaat bermain sensory play?

  1. Melatih perkembangan otak.
    Semakin banyak informasi yang diberikan, semakin banyak bank data yang tersimpan. Ketika otak semakin distimulasi maka akan semakin kuat, sebaliknya jika tidak dilatih otak akan kurang bekerja sehingga mempengaruhi kemampuan belajar

  2. Melatih regulasi dan kontrol diri.
    Tujuan yang diharapkan dari sensory play adalah menempatkan anak pada just right state, di mana pada level ini anak lebih tenang dan siap untuk menerima stimulasi.

  3. Meningkatkan ikatan emosi orang tua dan anak.
    Ketika orang tua menemani dan bermain bersama anak, saat itu pula orang tua sedang membangun ikatan batin dan kedekatan bersama buah hati.

  4. Mengembangkan kemampuan komunikasi dan bahasa.
    Dengan kegiatan bermain sensory play, anak akan memiliki pendengaran dan daya fokus yang lebih terarah. Ia akan lebih mudah memahami instruksi, cerita dan situasi yang dirasakan. Selain itu kemampuan komunikasinya juga akan berkembang dengan baik dan tertata.

  5. Meningkatkan kemampuan akademik.
    Hampir semua permainan sensori merangsang kemampuan psikomotorik anak sehingga akan menunjang aktivitasnya dalam menulis, membaca, memahami bentuk dan lain sebagainya. Manfaat lain juga dapat merangsang kemampuan imajinasi anak.

 

Nah, mulai sekarang ajak si kecil bermain sensory play, yuk Moms!