dr. Sepriani Timurtini Limbong

 

 

Setiap orang tua tentu ingin buah hatinya mencapai tumbuh kembang yang optimal. Hal tersebut dapat dicapai bila anak berada dalam kondisi sehat. Namun, tidak dapat dimungkiri, anak kerap mengalami berbagai penyakit, mulai dari yang sifatnya ringan hingga yang cukup berat. Salah satunya adalah penyakit ginjal kronik. 

 

Penyakit ginjal kronik, apa itu?

Penyakit ginjal kronik (PGK) adalah suatu kondisi dimana organ ginjal dalam tubuh mengalami kerusakan yang permanen. Disebut kronik karena penyakit ini berlangsung dalam waktu lama. 

 

Ginjal merupakan organ yang berbentuk seperti kacang merah yang letaknya ada di sekitar pinggang. Setiap manusia memiliki dua buah ginjal yang berfungsi untuk menyaring darah dari berbagai zat yang tidak diperlukan tubuh serta hasil metabolisme dalam tubuh. 

 

Nantinya, ginjal akan mengeluarkannya dalam bentuk urine (air kemih). Pada anak yang mengalami PGK, fungsi tersebut menurun dan terus memburuk seiring berjalannya waktu. PGK juga dapat terjadi pada orang dewasa dan sering disebut gagal ginjal kronik. 

 

Penyakit ginjal kronik pada orang dewasa kebanyakan disebabkan oleh penyakit metabolik sebelumnya, seperti diabetes mellitus (penyakit gula) atau tekanan darah tinggi. Hal ini berbeda jauh dengan anak. 

 

Penyebab PGK pada anak diantaranya adalah:

 

  • Kelainan ginjal bawaan dan penyakit keturunan. Contohnya adalah penyakit ginjal polikistik. 
  • Infeksi saluran kemih berulang. Infeksi saluran kemih yang berulang dan terutama yang tidak tertangani dengan baik dapat menyebabkan gagal ginjal saat anak menjelang remaja. 
  • Peradangan pada ginjal (glomerulonefritis). Glomerulonefritis merupakan peradangan pada ginjal yang umumnya berawal dari infeksi saluran pernapasan. Pada kondisi ini, jaringan ginjal mengalami kerusakan sehingga terjadi gagal ginjal. 

 

Gejala penyakit ginjal kronik

Penyakit ginjal kronik bukanlah suatu penyakit yang mudah didiagnosis. Namun, ada beberapa gejala yang mengarah pada kelainan ini, antara lain:

 

  • Bengkak di sekitar mata dan kaki 
  • Sering buang air kecil pada anak di atas usia 5 tahun.
  • Anak mengalami stunting (tubuh relatif pendek) dibandingkan anak lain seusianya
  • Kehilangan nafsu makan
  • Mual dan muntah
  • Sering sakit kepala hebat disertai peningkatan tekanan darah
  • Tampak pucat akibat anemia karena penurunan produksi sel darah.

 

Apabila anak menunjukkan gejala-gejala tersebut, dokter akan melakukan pemeriksaan tambahan. Mulai dari pemeriksaan urine, pemeriksaan darah terutama fungsi ginjal (terlihat dari kadar ureum dan kreatinin), ultrasonografi (USG) terutama bagian ginjal, hingga pengambilan jaringan ginjal (biopsi ginjal).

 

Meski PGK menandakan adanya kerusakan ginjal yang permanen, kondisi ini tetap dapat ditangani. Tujuan dari penanganan PGK adalah mengontrol gejala PGK, memperlambat perkembangan penyakit, memperbaiki kualitas hidup pasien, dan mengurangi risiko transplantasi ginjal.

 

Terapi yang dapat dilakukan adalah mulai dari pemberian obat-obatan hingga cuci darah (hemodialisis). Dokter akan menentukan pilihan terapi yang tepat sesuai dengan kondisi pasien. 

 

Pencegahan penyakit ginjal kronik pada anak

Lantas, bagaimana mencegah penyakit ginjal kronik terjadi pada anak? Pencegahan penyakit ginjal pada anak dimulai dari memastikan asupan cairan anak selalu cukup. Biasakan anak minum air putih setiap hari. 

 

Selain itu, ajarkan anak untuk tidak menunda buang air kecil agar terhindar dari infeksi saluran kemih. Kemudian, jangan sembarangan mengonsumsi obat, terutama antibiotik, saat anak sakit. Beberapa jenis antibiotik ada yang memiliki efek negatif bahkan merusak ginjal. 

 

Penyakit ginjal kronik memang dapat terjadi pada anak dan penanganannya kompleks dan menyeluruh. Untuk mencegahnya, lakukan langkah-langkah di atas dan kenali gejalanya. Dengan mengenali gejala penyakit ginjal kronik, Anda dapat mendeteksi dini dan menangani secepat mungkin.

 

Baca Juga