Menjalankan peran sebagai orang tua tidaklah mudah, terkadang sampai membuat orang tua kewalahan karena tingkah laku sang anak. Orang tua senantiasa harus sabar dengan perilaku anak. Ada kalanya orang tua kehilangan kesabaran saat menghadapi anak sampai membentak anak. Walaupun ada juga sebagian orang tua yang dapat menahan amarahnya dan tidak bertindak keras kepada anak-anaknya.

Pada masa tumbuh kembang anak, ada saja tingkah laku yang memancing emosi orang tua. Misalnya saat anak menumpahkan makanan atau minuman, membuat rumah berantakan karena mainannya ada di mana-mana, dan lainya. Lalu orang tua dengan spontan memberikan perhatian negatif seperti membentak atau memarahi anaknya. Tetapi, orang tua juga tidak bisa dipungkiri sering lupa untuk memberikan perhatian positif seperti memuji ketika anak mandi tepat waktu, menghabiskan makanan dan minumannya, serta membereskan mainannya. Yang seharusnya antara perhatian positif dengan perhatian negatif perlakuannya juga harus seimbang.

Membentak anak merupakan hal spontan yang dilakukan orang tua agar anak dapat memperhatikan dan mendengarkan ucapan orang tuanya. Apabila orang tua membentak ini akan mengeluarkan gelombang suara, jika disertai dengan gelombang emosi yang dihasilkan oleh otak kiri akan menghasilkan gelombang baru dengan efek negatif. Efek gelombang negatif ini bersifat destruktif terhadap sel-sel otak, terutama bagi anak yang menjadi sasaran bentakan orang tua.

Kira-kira apa yang terjadi pada otak anak jika orang tua membentak anak? Dalam hal ini terdapat penelitian populer yang dilakukan oleh Lise Gliot terhadap anaknya sendiri. Ia memasangkan kabel perekam otak yang dihubungkan dengan monitor sehingga dapat terlihat perubahan yang terjadi dalam perkembangan otak anaknya. Hasil penelitian menunjukan Gliot dapat melihat rangkaian indah yang terbentuk pada otak anak ketika anaknya disusui dan mendapatkan sentuhan hangat. Namun, pada saat anaknya terkejut karena mendengar bentakan, rangkaian tersebut menjadi gelembung lalu pecah berantakan dan berubah warna. Dari penelitian ini sangat jelas bahwa marah atau membentak anak akan mempengaruhi perkembangan otaknya. Pada remaja dan orang dewasa mengalami kerusakan yang tidak sebesar anak-anak, tapi tetap saja terjadi kerusakan.

Lalu, apa dampak jangka panjang jika orang tua terus menerus membentak anak?

  1. Anak akan tumbuh menjadi seseorang yang tidak percaya diri.
  2. Anak akan merasa minder dan ragu untuk mencoba hal-hal baru.
  3. Anak akan memiliki sikap egois dan pemarah.
  4. Anak cenderung menjadi sosok penantang, keras kepada dan membantah aturan orang tua.
  5. Anak akan memiliki pribadi yang lebih tertutup.
  6. Anak cenderung apatis atau tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya.

Oleh karena itu, sebagai orang tua sebaiknya memilih sikap yang lebih kreatif dalam menghadapi tingkah laku anak. Orang tua harus lebih mempertimbangkan tingkat perkembangan psikis anak sebelum membentak. Karena dampak dari membentak anak ini bisa berkelanjutan dan mempengaruhi kepribadian anak di masa yang akan datang.