Sebagai orang tua, tentu kita merasa kesal bahkan marah ketika mengetahui bahwa anak berbohong. Namun, penting bagi orang tua untuk mengetahui alasan anak berbohong agar orang tua dapat menyikapinya dengan bijak dan tidak langsung menghukum atau memarahinya. Banyak alasan ketika anak berbohong kepada orang tuanya, alasan-alasan yang membuat anak berbohong antara lain:

  • Memiliki daya imajinasi yang terlalu tinggi
  • Merasa takut ketika berkata jujur karena takut dihukum
  • Menghindar dari suatu pekerjaan atau kewajiban
  • Mencari perhatian
  • Berusaha mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan
  • Takut mengecewakan orang tua
  • Memiliki masalah emosional
  • Masih tidak mengerti perbedaan kebohongan dan kejujuran
  • Meningkatkan harga diri dan mendapakan persetujuan
  • Mengalihkan fokus dari diri mereka sendiri
  • Spontan, berbicara sebelum berpikir

Berbohong merupakan salah satu hal yang kerap dipelajari anak seiring tumbuh kembangnya, Anak mulai mengenal tentang berbohong di umur 3 tahun dan hal ini meningkat seiring bertambahnya usia. Memasuki usia 4-6 tahun, anak sudah lebih pandai dalam menunjukkan ekspresi wajah dan nada suara ketika ia sedang berbohong. Seiring bertambah usia, tentu ia akan lebih berani lagi berbohong termasuk hal yang berkaitan dengan sekolah, pekerjaan rumah, guru hingga teman. Usia 5-10 tahun merupakan saat yang penting untuk menjelaskan batas antara kebohongan dan kejujuran. Ketika anak berbohong dan kita sebagai orang tua tahu bahwa anak kita berbohong.

Kira-kira apa yang sebaiknya dilakukan oleh orang tua? Berikut adalah ulasannya:

  1. Lakukan obrolan mengenai kebohongan dan kebenaran dengan anak-anak. Misalnya, "Bagaimana perasaan ibu jika ayah berbohong padanya?" atau "Apa yang terjadi jika kamu berbohong kepada orang tua?"
  2. Bantu anak menghindari situasi dimana mereka merasa perlu untuk berbohong. Misalnya, jika orang tua bertanya kepada anak, "Apakah kamu menumpahkan susu?’, anak mungkin merasa untuk berbohong. Untuk menghindari situasi ini, orang tua bisa mengatakan, "Ibu/ayah lihat susu tumpah, kita bersihkan yuk".
  3. Puji anak ketika mereka mengaku melakukan sesuatu yang salah. Misalnya, "Ibu/ayah sangat senang kamu memberi tahu saya apa yang terjadi. Sekarang yuk kita pikirkan untuk menyelesaikan masalahnya".
  4. Jadilah panutan untuk mengatakan yang sebenarnya. Mengajari anak bersikap jujur harus dimulai dari kebiasaan dan teladan orangtua yang jujur dalam perkataan ataupun tindakan.
  5. Gunakan candaan untuk mendorong anak mengakui kebohongan tanpa konflik.
  6. Selalu beri tahu anak ketika orang tua sebenarnya mengetahui bahwa mereka tidak mengatakan yang sebenarnya. Tetapi coba untuk menghindari bertanya kepada anak sepanjang waktu apakah mereka mengatakan yang sebenarnya.
  7. Hindari menyebut anak sebagai "pembohong". Ini dapat membuat anak akan semakin sering berbohong. Karena jika anak percaya bahwa mereka pembohong, mereka mungkin juga terus berbohong.