Irma Gustiana Andriani, M.Psi, Psi

Masa pandemi ini membuat orangtua merasa kewalahan dalam memberi stimulasi untuk anak karena ada banyak keterbatasan, terutama terkait dengan aspek sosial anak. Anak-anak sangat menyenangi aktivitas bermain diluar rumah karena memungkinkan ia berinteraksi dengan teman sebayanya baik di playground atau di sekolah. Namun saat ini, mereka harus lebih banyak berada dirumah sehingga membuat orangtua khawatir dengan keterampilan sosialnya.

Sebenarnya dengan di rumah saja, orangtua tetap bisa memberi stimulasi sosial pada anak. Apa saja yang harus dilakukan? Berikut beberapa tipsnya:

1. Memberi kesempatan pada anak untuk terhubung dengan teman sebaya atau keluarga besarnya melalui aplikasi sosial media untuk video call, tentu dengan pendampingan orangtua. Komunikasi dapat membantu anak-anak merasa tidak sendirian dan mengurangi beberapa stres yang timbul karena jauh dari teman, sepupu atau keluarga besarnya.Teknologi juga dapat membantu anak-anak muda merasa lebih dekat dengan kerabat atau teman yang tidak dapat mereka lihat saat ini.

2. Berlatih tulisan tangan dan tata bahasa dengan menulis surat kepada anggota keluarga. Ini adalah salah satu cara untuk tetap terhubung dengan orang lain.

3. Membacakan buku cerita dengan tema-tema social. Misal tentang kerjasama, sportivitas, empati atau tolong menolong. Lakukan diskusi atau tanya jawab dengan anak terkait tema yang sudah dibaca.

4. Melatih kesabaran dan menunggu giliran dengan melakukan aktivitas bermain game bersama. Ada baiknya bila permainan ini dilakukan bersama seluruh anggota keluarga sehingga terjadi hubungan dan interaksi. Permainan berkelompok dengan papan juga memungkinkan anak mau belajar bersabar menunggu giliran, dimana hal ini juga menjadi bagian terpenting dari perkembangan sosial.

5. Mengenalkan beragam jenis emosi baik dengan visualisasi gambar, contoh wajah, atau flash card. Dengan demikian, anak bisa mengenal, memahami, menamakan dan membedakan jenis-jenis emosi.

6. Mengajak anak bermain role play atau bermain peran, misalnya saja bermain sekolah-sekolahan, dimana ibu menjadi muridnya, anak menjadi gurunya atau sebaliknya. Bermain dokter-dokteran atauu swalayan juga bisa dilakukan untuk melatih keterampilan komunikasi dan sosial anak.

7. Mendorong anak untuk selalu melakukan kontak mata saat bicara, sehingga anak merasa diperhatikan dan diinginkan kehadirannya. Hal ini juga merupakan dasar yang baik dari pembentukan aspek keterampilan sosial anak.

8. Gotong royong bersama di rumah dengan seluruh anggota keluarga. Misalnya membersihkan mobil bersama, menyiram tanaman, memasak bersama, mencuci pakaian dan menjemurnya. Hal ini akan membuat anak semakin mengenal anggota keluarganya, meningkatkan keterampilan komunikasi, juga dapat mengembangkan keterampilan hidup anak.

9. Jadilah role model atau teladan anak dalam hal sosialisasi. Misalnya selama di rumah, tunjukkan pada anak-anak bahwa orangtuanya memiliki waktu bersamanya untuk bermain, bercanda dan bekerja sama. Selain itu cara ayah dan ibu dalam berinteraksi juga akan berpengaruh pada pemahaman sosial anak.