Penulis: Irma Gustiana Andriani, M.Psi, Psi

 

Tahun ajaran baru akan segera dimulai dalam beberapa bulan lagi. Biasanya anak-anak usia balita akan menghadapi suasana yang berbeda. Mereka sering menunjukkan kecemasan berpisah dari orangtuanya. Ada anak yang perlu proses lama untuk menyesuaikan diri dengan situasi dan orang yang baru dikenal, misalnya dengan menunjukkan sikap menolak, menangis, menjerit atau ketakutan tetapi ada pula anak yang dengan cepat menunjukkan sikap mau berbaur dan bergaul dengan orang lain, sekalipun baru pertama kali bertemu.

Sebelumnya kita pahami dulu ya moms apa yang dimaksud dengan adaptasi. Kata ‘adaptation’ sendiri muncul di awal abad ke-17, berawal dari bahasa latin ‘adaptare’. Kemampuan adaptasi pada anak ditunjukkan dengan seberapa cepat anak menyesuaikan diri dengan perubahan yang dihadapinya setelah ada respons awal, dan seberapa baik mereka memodifikasi respons tersebut.

Faktor yang mendukung kemampuan penyesuaian diri anak dipengaruhi oleh keadaan bawaan anak secara genetik, namun sebagai orangtua kita bisa membantu anak untuk mempermudah prosesnya dalam menyesuaikan diri. Misalnya saja, anak yang pembawaannya pemalu, akan mampu beradaptasi karena orangtua memberikan stimulasi, contoh dan cara-cara praktis untuk menyesuaikan diri atau bergaul. Sebaliknya, jika anak diketahui memiliki pembawaan pemalu dan pendiam, tetapi orangtua kurang memberikan stimulasi maka kemungkinan besar ia akan tumbuh menjadi pribadi yang semakin sulit bergaul dan beradaptasi.

 

Lalu strategi apa yang harus dilakukan orangtua untuk membantu si kecil beradaptasi?

  1. Menerima dan memahami dengan baik mengenai karakter dan pembawaan anak, serta bagaimana kebiasaan anak saat menghadapi perubahan. Apakah ia termasuk anak yang perlu waktu adaptasi atau sebaliknya. Dengan memahami karakter dasarnya, akan membantu orangtua dalam mendukung pengembangan diri anak.
  2. Anak yang pemalu atau takut pada situasi tertentu atau perubahan yang mendadak, umumnya memiliki rasa percaya diri yang rendah. Untuk orangtua perlu mengasah percaya diri anak dengan memberikan ruang dan kesempatan pada anak untuk menentukan sendiri apa yang menjadi keinginannya. Upaya pembentukan rasa percaya diri pada anak bisa dilakukan secara bertahap dan tidak memaksa. Misalnya, ketika anak belum mau tampil di depan kelas, biarkan anak untuk mengamati dulu. Tindakan memaksa justru akan membuat perasaan anak semakin tidak nyaman.
  3. Dampingi anak saat ia merasa tidak nyaman dengan perubahan situasi yang tiba-tiba. Berikan kata-kata penyemangat untuk membantunya dalam mengatasi rasa yang tidak nyaman misalnya,atau “Ibu bangga pada Kakak karena sudah mau masuk ke kelas, Ibu yakin besok-besok sudah tidak perlu ditemani Ibu lagi.”, dan sebagainya.
  4. Bekerja sama dengan pihak sekolah menjadi hal yang paling penting dilakukan orangtua. Dengan menjalin kerjasama dan komunikasi yang baik dengan guru maka proses transisi yang dihadapi anak dapat berjalan lebih mulus dan tanpa “drama”. Misalnya, orangtua dapat memberikan informasi mengenai hal-hal apa yang dapat membuat anak nyaman, dan sebaliknya guru juga dapat menyampaikan kepada orang tua mengenai kemajuan anak di sekolah terkait penyesuaian dirinya.