Penulis: Irma Gustiana Andriani, M.Psi, Psi

 

Permasalahan yang seringkali dialami orang tua dan anak adalah komunikasi yang tidak efektif. Terkadang orang tua yang tidak paham keinginan anak atau kebutuhan anak. Padahal, dalam sebuah keluarga, sangat penting untuk mendengarkan tanggapan anak atas informasi yang disampaikan orang tua, apakah anak paham atau tidak dengan apa yang disampaikan. Hal itu dilakukan untuk meminimalisir miskomunikasi.

Hal-hal apa yang sebaiknya dihindari atau pun dilakukan jika berbincang dengan anak?

  • Terlalu banyak bicara dibandingkan mendengarkan keluhan, cerita, ide atau informasi yang disampaikan anak.
  • Mengomel atau mengulangi kembali apa yang telah disampaikan, sangat tidak disukai anak. Apalagi jika orang tua senang mengungkit kembali cerita yang telah berlalu.
  • Tidak mempercayai cerita anak. Hindari untuk memberikan komentar “ah, masa sih” atau “mama gak percaya”. Perasaan anak pastinya akan terluka ketika orang tuanya sendiri tidak mempercayai ceritanya atau kemampuannya. Jika ingin mengklarifikasi, sebaiknya memilih kata-kata yang positif atau tidak menekan anak.
  • Banyak memberikan interupsi ketika anak bicara, hal itu akan membuat anak merasa tidak nyaman. Bersikaplah sabar dan dengarkan terlebih dahulu apa yang ingin disampaikan anak.
  • Terlalu banyak kritikan terhadap apa yang disampaikan anak. Anak yang sering dikritik, nantinya akan ragu-ragu dan kurang memiliki pendirian karena seringkali menerima kritikan. Bersikap sabarlah terhadap apa yang disampaikan anak.
  • Minimalisir adanya distraksi seperti gawai atau alat elektronik lain. Minim kontak mata akan mengurangi efektivitas komunikasi tatap muka.

Mendengar aktif dalam komunikasi orang tua dan anak terkait dengan cara membangun pengertian dan kepercayaan antara orang tua dan anak sehingga akan tumbuh rasa empati. Mendengar aktif juga mengandung pengertian bahwa kedua belah pihak harus memusatkan perhatian (konsentrasi), tidak menyela pembicaraan dan memberikan respon dengan kontak mata.

Bagaimana memulai komunikasi jika sudah terlanjur jarang ngobrol dengan anak atau anak yang susah diajak bicara?

  • Mulailah dari hal-hal yang ringan, yang disukai anak atau kegiatan harian yang dilakukan anak. Hindari untuk spesifik menanyakan mengenai akademik, karena pada beberapa anak hal itu sangat tidak menyenangkan untuk didiskusikan, apalagi jika selama ini orang tua tampak “cuek” dengan perkembangan mereka.
  • Memperkuat jalinan komunikasi dengan memberikan perhatian pada hal-hal kecil, misalnya “jangan lupa makan ya kak”, “semangat sekolahnya ya kak” , “mau dibawakan apa sayang?”.
  • Memberikan pujian atau penghargaan terhadap hal-hal positif yang ia lakukan.
  • Mulailah untuk memiliki waktu berkualitas 10-15 menit sebelum tidur dimalam hari. Dipagi hari, orang tua juga dapat memanfaatkan waktu yang singkat untuk berkomunikasi dengan anak.
  • Untuk anak yang agak tertutup, simbolisasi berupa kartu ucapan, notes, gambar dan lain sebagainya cukup efektif sebagai sarana membangun kembali komunikasi.

Berikut ide-ide menarik dan praktis yang bisa dilakukan orang tua yang mampu meningkatkan kualitas komunikasi ke anak:

  • Bermain tebak-tebakan dapat dijadikan referensi untuk membantu orang tua dalam membangun komunikasi dengan anak.
  • Bermain role playing atau bermain peran, menjadi dokter-dokteran, guru, polisi dan lain sebagainya. Bermain peran dapat pula membantu anak untuk mengkomunikasikan ide atau isi pikirannya
  • Bernyanyi bersama dengan membagi bait atau nada antara orang tua dan anak. Dalam hal aktivitas memilih lagu, membagi suara dan bernyanyi bersama dapat mendukung orang tua dan anak menjalin komunikasi.
  • Membuat simbol dengan gambar atau kata-kata positif. Hal ini bisa dilakukan dengan menyisipkan kartu ucapan di kotak makan anak, atau di bawah bantal tidurnya, di saku celana atau bisa juga dilekatkan pada area di mana anak sering beraktivitas.
  • Menulis diari bersama. Hal ini bisa dilakukan jika anak berusia sudah sekolah, karena kemampuan menulisnya sudah berkembang. Dengan menulis cerita atau mengungkapkan perasaan melalui diari maka hal-hal yang tidak dapat diekspresikan secara lisan dapat dituangkan secara tertulis.