dr. Muhammad Iqbal Ramadhan

 

Virus corona masih menjadi penyakit yang menakutkan bagi sebagian besar orang, termasuk anak-anak. Namun, selain infeksi coronavirus ini, ada berbagai penyakit lainnya yang juga sering menyerang anak. Apa saja itu?

 

Hal yang Harus Orangtua Tahu Tentang Virus Corona

COVID-19 adalah virus baru penyebab penyakit saluran pernapasan yang pertama kali ditemukan di Kota Wuhan, Tiongkok. Virus corona  adalah salah satu jenis novel coronavirus yang masih sayu keluarga dengan virus Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan beberapa jenis flu biasa.

 

Virus ini ditularkan melalui droplet yang keluar dari semburan air liur, batuk, dan dari bersin seseorang yang terinfeksi coronavirus. Jika droplet berisi virus terhirup atau masuk ke dalam mulut, Anda bisa terinfeksi.

 

Virus corona juga bisa ditularkan lewat benda yang sudah terkontaminasi sebelumnya. Jika menyentuh benda yang terkontaminasi lalu memegang bagian wajah seperti mulut, mata, atau hidung, Anda bisa tertular COVID-19.

 

Gejala virus corona dapat berupa demam, batuk, dan sesak napas. Pada kasus yang lebih parah, infeksi coronavirus dapat menyebabkan pneumonia atau kesulitan bernapas. Penyakit ini bisa berakibat fatal seperti kematian yang disebabkan oleh gagal napas.

Benarkah Anak-anak Kebal Penyakit Penyakit Virus Corona?

Banyak isu beredar yang mengatakan anak-anak lebih kebal terhadap virus corona daripada orang dewasa atau lansia. Sayangnya, sampai saat ini belum ada penelitian atau penjelasan dokter yang bisa memastikan hal tersebut.

 

Para ahli masih meneliti lebih lanjut seputar COVID-19 pada anak. Namun saat ini, kasus virus corona pada anak memang dilaporkan lebih sedikit jumlahnya, tidak sebanyak pada lansia atau orang dewasa.

 

Intinya, setiap orang, termasuk anak-anak atau bayi sekali pun, dapat terkena infeksi coronavirus. Namun, infeksi yang dialami anak-anak lebih ringan dibanding dengan orang dewasa atau orang yang lebih tua.

 

Pastikan anak-anak Anda mendapatkan semua vaksinasi wajib di untuk mencegah penyakit yang rentan menyerang usianya, termasuk vaksin flu.

 

Beberapa Penyakit yang Sering Menyerang Anak-anak

Anak-anak dilahirkan dengan sistem kekebalan tubuh yang belum matang. Akibatnya, mereka rentan terkena infeksi penyakit. Meskipun sistem kekebalan anak yang masih bayi umumnya lemah, jumlah infeksi akan mulai berkurang seiring waktu.

 

Biasanya, daya tahan tubuh mulai menguat saat anak-anak masuk usia sekolah. Nantinya, tingkat infeksinya pun mulai jarang, hampir sama dengan orang dewasa.

 

Selain itu, para orangtua harus tau, penyakit atau infeksi lain yang juga sering menyerang anak-anak. Berikut daftarnya:

 

      Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), Influenza, atau Common Cold

Anak-anak rentan mengalami infeksi saluran pernapasan atas, atau sering disebut sebagai ISPA. Kondisi ini menyebabkan peradangan pada jaringan di hidung dan tenggorokan.

 

Rhinovirus salah satu penyebab ISPA terbanyak dari 200 jenis virus yang ada. Virus lain yang dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan anak bisa termasuk coronavirus, Respiratory Syncytial Virus (RSV), Human Meta Pneumonia Virus, dan Parainfluenza Virus.

 

      Asma

Asma adalah penyakit non-infeksi yang disebabkan oleh peradangan pada saluran udara di sistem pernapasan manusia. Akibat peradangan tersebut, saluran udara yang membawa oksigen ke paru-paru jadi menyempit.

 

Efeknya, seseorang bisa mengalami gejala berupa sesak napas, batuk, napas cepat serta dangkal. Pada tahun 2015, diperkirakan 6,2 juta anak di bawah usia 18 tahun telah didiagnosis asma dengan riwayat genetik pada keluarganya.

 

Kasus asma pada anak-anak telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak tahun 1980, menurut Center for Disease Control and Prevention.

 

      Pneumonia

Pneumonia adalah penyakit infeksi yang menyebabkan peradangan pada kantong-kantong udara di salah satu atau kedua paru-paru manusia. Pneumonia bisa disebabkan oleh bakteri dan virus, termasuk virus corona.

 

Radang paru termasuk penyakit yang umum terjadi pada anak-anak. Bahkan, penyakit ini merupakan penyebab kematian kedua pada balita di Indonesia, setelah diare.

 

Gejala pneumonia pada anak dapat ditandai dengan batuk, mengi, hidung tersumbat, nyeri dada, nyeri perut, nafsu makan menurun, hingga sesak napas.

 

      Diare

Diare bisa ditandai dengan ketika frekuensi buang air besar anak (BAB) meningkat. Biasanya, anak yang diare bisa BAB lebih dari 3 kali dalam 24 jam. Selain itu, volume dan konsistensi feses anak yang sedang diare juga lebih cair.

 

Diare akut terjadi kurang dari 7 hari, diare persisten terjadi lebih dari 7 hari, sedangkan diare kronis terjadi lebih dari 14 hari. Umumnya disebabkan oleh infeksi virus, bakteri (kolera, disentri dan typhoid), parasit, alergi makanan, dan keracunan makanan.

 

Jika saat diare si kecil mengalami muntah berulang, sangat haus, malas makan dan minum, demam, feses mengeluarkan darah, dan ada tanda dehidrasi berat segera periksakan anak Anda ke dokter.

 

Orang Tua Wajib Meningkatkan Daya Tahan Tubuh Anak

Sebagian besar anak-anak yang memiliki infeksi berulang tidak memiliki masalah serius dan bisa tumbuh dengan sehat.

 

Untuk itu, orangtua juga wajib meningkatkan daya tahan tubuh anak dan memastikan pencegahan infeksi. Pastikan anak memiliki waktu tidur yang cukup dan makan makanan yang sehat. Pasalnya, tidur cukup dan nutrisi yang tepat sangat penting dalam membantu perbaikan daya tahan tubuh anak.

 

Jika anak Anda tinggal di rumah karena sekolah diliburkan, tetap ajarkan kebersihan yang baik, seperti sering mencuci tangan, menutup batuk dan bersin dengan siku atau tisu, kemudian buang tisu ke tempat sampah yang tertutup.

 

Pastikan juga untuk menerapkan kepada anak agar mereka tidak sering menyentuh mata, mulut atau hidung mereka, serta menghindari kontak dekat dengan siapapun dengan gejala flu atau batuk.

Baca Juga