Penulis: Irma Gustiana Andriani, M.Psi, Psi

Setiap anak unik dan berbeda, sehingga orangtua membutuhkan pola penanganan dan pengasuhan yang tepat agar tiap anak dapat tumbuh dan berkembang optimal. Di usia perkembangan yang kritis terutama di masa balita, anak mulai melakukan eksplorasi terhadap lingkungan. Memasuki usia 3-4 tahun, kemampuan bicaranya sudah berkembang pesat. Fisiknya pun semakin kuat, sehingga ia tidak hanya aktif bertanya tapi juga aktif secara fisik. Anak-anak diusia ini pun cenderung kritis dan ingin tahu dengan segala sesuatu yang ia lihat, dengar atau rasakan. Jika orangtua jeli memperhatikan si kecil, diusia ini mereka juga sering melakukan imitasi atau meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya.

Sehari-hari anak yang aktif cenderung senang mencari kesibukan. Namun, biasanya lebih terarah dan cukup mudah diarahkan, dibandingkan anak-anak hiperaktif yang sulit untuk mematuhi aturan. Si kecil yang aktif umumnya senang bertanya, mengutak-atik benda-benda yang ada di sekitarnya, senang berlarian dan bermain. Nah, supaya orangtua tidak salah mengasuh mereka, maka ada baiknya memperhatikan tips dan trik di bawah ini ya:

  1. Arahkan si aktif menjadi anak yang kreatif
    Berikan kesempatan anak untuk melakukan beragam kegiatan yang merangsang kreativitasnya, misalnya saja membuat prakarya dengan barang-barang bekas yang tersedia di rumah. Orangtua juga dapat memfasilitasi anak dengan beragam alat menggambar seperti kertas, cat air, pensil, krayon dan lainnya. Buatlah area khusus di rumah untuk memfasilitasi kreativitasnya berkarya. Orangtua bisa menamakannya sebagai ‘Ruang Kreasi’.

  2. Mendorong anak untuk tetap semangat belajar dari lingkungan
    Ajak anak untuk wisata edukatif keliling kota, misalnya saja ke kebun binatang, museum, science park, taman bermain atau berkunjung ke perpustakaan.

  3. Kenalkan anak dengan buku
    Si kecil yang aktif dan kritis membutuhkan orang dewasa yang bisa membimbingnya mencari jawaban atas apa yang ia pertanyakan. Karena itu kenalkan ia dengan buku. Ciptakan lingkungan yang terbiasa dengan membaca buku. Untuk anak-anak dimulai dari buku bergambar dengan tokoh anak yang menarik, dampingi anak saat ia membaca buku, ceritakan isi kandungan ceritanya dan ajak anak diskusi mengenai isi cerita tersebut.

  4. Si kecil yang aktif juga perlu belajar sosialisasi
    Dorong ia untuk berkenalan dengan teman sebaya dan teman lintas usia. Dengan berteman, anak akan belajar mengenai perbedaan, bersabar, empati, menunggu giliran dan kerjasama. Orangtua juga perlu untuk mengajarkan anak untuk memahami etika dan aturan dalam berteman, agar tidak menyakiti perasaan orang lain. Cara yang paling sederhana untuk mengajari si kecil tentang bersosialisasi adalah dengan mengajaknya bermain di taman atau mengundang teman untuk bermain di rumah.

  5. Ajarkan si kecil tentang disiplin
    Melihat si kecil yang aktif dan tidak mau diam, orangtua perlu untuk mengarahkannya agar tetap patuh pada aturan yang ada disekitarnya. Jelaskan padanya mengenai aturan di rumah, misalnya, tetap duduk saat sedang makan.

  6. Berikan kegiatan yang seimbang
    Si kecil yang aktif butuh ruang gerak yang luas. Oleh karena itu, orangtua dapat mengimbangi aktivitas si kecil dengan memberikan kesempatan bergerak dan berolahraga, misalnya saja dengan bersepeda, berenang, bermain ayunan atau berlarian di taman. Namun, pengawasan orangtua dibutuhkan agar keamaan dan keselamatan anak saat bermain tetap dapat dikontrol.