Penulis: Irma Gustiana Andriani, M.Psi, Psi

Anak laki-laki dan perempuan memang berbeda. Perbedaan utama dapat dilihat dari segi fisik dan biologis, seperti struktur alat kelaminnya, otot tubuhnya, hormon testosteron yang menonjol pada anak laki-laki dan hormon estrogen yang menonjol pada anak perempuan. Hormon ini memiliki tugas masing-masing sehingga akan menuntut perbedaan yang jelas antara anak laki-laki dan perempuan baik pada masa kanak-kanak, masa pubertas, bahkan sampai usia dewasa. Selain itu, perilaku anak laki-laki biasanya lebih aktif dan agresif sedangkan anak perempan cenderung agak pasif dalam hal kegiatan fisik. Daya ingat anak perempuan umumnya lebih panjang, sehingga mampu menyelesaikan soal dengan cara yang sudah diajarkan. Sementara anak lelaki punya kreativitas dan keberanian mengambil risiko yang lebih besar, sehingga lebih memilih menggunakan cara baru untuk menyelesaikan soal yang sama.

Anak laki-laki lebih dominan dalam aspek motorik kasar, kekuatan fisik, dan tertarik pada objek yang bergerak. Maka orangtua disarankan untuk memberikan stimulasi yang terkait dengan aspek fisik, tempat bermain yang lebih lapang untuk bereksplorasi, memberikan informasi dan instruksi dengan kalimat yang pendek, mengajari untuk berani dan melindungi, mengajari batasan bergaul, dan menghormati lawan jenis. Secara emosional, perkembangan emosi anak laki-laki cenderung lebih lambat dibandingkan dengan anak perempuan yang lebih dulu matang/dewasa. Orangtua disarankan untuk mengajarkan pada anak bahwa memberikan kasih sayang dan perhatian pada orang lain adalah hal yang penting. Selain itu orangtua juga menunjukkan rasa cinta penghargaan, perhatian dan motivasi. Berikan contoh dalam perilaku orangtua sehari-hari, karena anak laki-laki lebih mudah belajar dari contoh praktis yang ia lihat.

Anak perempuan umumnya lebih cepat matang dibandingkan anak lelaki. Mereka lebih cepat belajar dalam hal kemampuan mengurus diri, lebih cepat perkembangan verbal dan motorik halusnya. Sejak dini, orangtua dapat memberikan pendidikan terkait dengan peran gender perempuan, misalnya mengajaknya untuk memasak bersama, mengurus kebersihan dan kesehatan dirinya secara jasmani dan rohani. Anak perempuan juga lebih cepat masa puber dan perkembangan emosinya, maka orangtua perlu untuk jadi pendengar yang baik, mendukung anak ketika bicara, menjadi role model dalam hal mengendalikan emosi, mengajari batasan bergaul dan cara menjaga diri, dan megajari konsep berbuat baik yang tidak merugikan diri sendiri. Dalam mengasuh anak perempuan, sebaiknya orangtua jangan hanya fokus dalam memuji kecantikan fisik saja, agar ia tidak memandang bahwa jasmani lebih utama dibandingkan kepribadiannya.

Terkait dengan permainan, bahwa setiap anak, baik laki-laki atau perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk mencoba beragam permainan, sejauh dalam porsi yang wajar dan tidak membahayakan dirinya baik secara fisik maupun secara mental. Setiap aktivitas yang dilakukan memiliki berbagai manfaat yang dapat menunjang perkembangan si anak. Hal yang paling utama dalam mengasuh keduanya adalah orangtua harus bisa menghargai kodrat mereka dengan gendernya sehingga tidak memberikan beban psikologis yang berlebihan. Misalnya jika anak laki-laki menangis karena sesuatu yang menyakitkan, orangtua jangan memarahinya. Mungkin ia butuh waktu dan cara mengekspresikan perasaannya. Sama halnya dengan anak perempuan yang menyenangi aktivitas fisik, karena setiap anak selalu memiliki cara unik dan berbeda dalam menyikapi lingkungan.