Penulis: Irma Gustiana Andriani, M.Psi, Psi

Seringkali kita dihadapkan pada persoalan sehari-hari dimana anak terlihat tidak mau patuh, sesuka hati, sulit diatur bahkan seringkali “mengamuk” jika keinginannya tidak segera dipenuhi. Tenyata salah satu penyebabnya adalah kemampuan regulasi diri anak yang rendah. Sebetulnya apa yang dimaksud dengan regulasi diri dan seberapa penting bagi anak?

Regulasi diri atau pengaturan diri adalah kemampuan untuk memahami dan mengelola perilaku dan reaksi seseorang terhadap perasaan dan hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Seseorang yang dikatakan memiliki kemampuan regulasi diri yang baik terlihat dari kemampuannya mengatur reaksi terhadap emosi yang dirasakan seperti frustrasi atau kegembiraan. Ia juga mampu untuk tetap bersikap tenang setelah merasakan sesuatu yang mengesalkan atau menyenangkan. Selain itu, mampu untuk fokus pada sesuatu yang sedang dikerjakan dan juga mampu mengendalikan diri saat berada dalam situasi sosial.

Kemampuan ini sangat penting bagi anak, karena jika ia memiliki regulasi diri yang baik maka akan membantunya:

  • Belajar di sekolah, misalnya karena regulasi diri maka ia mampu untuk duduk diam dan mendengarkan di kelas.
  • Berperilaku sesuai aturan yang dapat diterima secara sosial - misalnya, karena ia mampu mengatur dirinya, maka anak akan mampu untuk mengendalikan diri untuk tidak memberikan komentar negatif ketika ada di situasi sosial. 
  • Memudahkannya dalam menjalin pertemanan, misalnya, anak menjadi mampu untuk bermain secara bergantian dalam permainan, berbagi mainan, dan mengekspresikan emosi seperti suka dan marah dengan cara yang tepat. 
  • Anak menjadi lebih mandiri, karena pengaturan diri anak dapat membuat keputusan yang tepat sesuai dengan dituntut lingkungan secara mandiri tanpa harus terus tergantung. 
  • Mengelola stress, karena pengaturan diri membantunya mengatasi perasaan negatif dan memberinya kemampuan untuk menenangkan diri setelah marah atau kesal tanpa meledak-ledak.

Bagaimana regulasi diri berkembang?
Regulasi diri bukanlah sesuatu yang didapatkan anak sejak lahir, karena bayi tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan reaksi dan perilakunya. Pengaturan diri berkembang paling pesat ketika anak berada pada usia balita dan terus berkembang sampai dewasa.

Usia 0-6 bulan
Di usia ini, bayi belum dapat belajar mengenai regulasi dirinya tetapi dengan bantuan orang tua, ia akan mulai mengembangkan cara-cara menangani emosinya. Misalnya, ketika orang tua memberikan respon yang cepat saat bayi menangis dan berpelukan serta menghiburnya, dia akan tenang. Pengalaman ini membantu bayi belajar tentang bagaimana menenangkan dirinya - misalnya, ia mungkin mengisap jempolnya untuk menenangkan dirinya. Mampu menenangkan diri adalah langkah pertama menuju belajar pengaturan diri.

Usia Balita
Saat anak berusia balita ia akan mulai mengembangkan beberapa keterampilan pengaturan diri yang paling dasar. Misalnya, dia akan belajar berapa lama dia biasanya harus menunggu seperti makanan atau gilirannya untuk bermain. Mulai sekitar dua tahun, anak mungkin akan dapat mengikuti instruksi atau aturan sederhana seperti ‘Ambilkan topi itu’ atau ‘berjalan, ya’. Dan saat dia berkembang, anak akan mulai mengikuti aturan sederhana. Tetapi pada usia ini ada kalanya anak memang masih akan melanggar beberapa aturan dasar, misalnya tidak sabar menunggu dan kemudian mengambil alih mainan yang dimainkan temannya. Nah, disinilah peran orang tua dalam mengarahkan dan mendampingi anak untuk mengembangkan kemampuan regulasi diri yang lebih baik. Selamat mengasuh ya!

Source: raisingchildren.net.au