Irma Gustiana Andriani, M.Psi, Psi

Pandemi Covid-19 memberi banyak pengaruh dalam kehidupan kita saat ini, dari sisi personal dan dinamika sosial termasuk yang hubungannya dengan keluarga. Dalam situasi ini, menguatkan keluarga adalah hal yang sangat penting dilakukan agar bisa menjalani kehidupan “baru” sebagai sebuah kebiasaan baru.  Saat memasuki era tatanan baru atau new normal dibutuhkan penyesuaian pada pengasuhan anak.
Pengasuhan berdasarkan pada pemenuhan kebutuhan kasih sayang, kelekatan, keselamatan dan kesejahteraan agar anak-anak terhindar dari rasa cemas atau ketidaknyamanan. Selain itu, rasa aman juga merupakan aspek penting dalam melakukan aktivitas, termasuk dalam proses pengasuhan dan pembelajaran yang saat ini dilakukan secara jarak jauh.

Apa saja yang harus dilakukan orangtua untuk damping si kecil?

1. Mengajarkan anak secara bertahap mengenai literasi kesehatan terutama terkait dengan kebersihan dan merawat diri seperti mengajarkan bagaimana cara menggunakan masker, mencuci tangan sendiri, menjaga jarak, dan lain-lain.

2. Memberi penjelasan mengenai "Kehidupan Baru" yang akan dihadapi, sehingga mereka akan menyadari bahwa ada kehidupan kehidupan baru di depan mereka. Kehidupan yang tidak bisa lagi sama seperti dahulu, misalnya tidak bisa ke sekolah sementara waktu,  tidak lagi bebas bermain ke pusat perbelanjaan, beraktivitas terlalu lama di tempat umum, atau berkumpul bersama teman-temannya. Edukasi seperti ini diharapkan dapat membuat anak-anak memahami dengan baik, konsekuensi yang bisa mereka dapatkan apabila melanggar ketentuan atau aturan baru di masa era baru. Dalam proses edukasi ini, orang tua bisa menerima masukan atau pertanyaan dari anak-anak, sehingga kita bisa mengakomodir juga kekhawatiran mereka. Gunakan pendekatan dengan bahasa yang mudah dipahami anak, sesuai dengan jenjang usianya.

3. Mengalihkan ketidaknyamanan anak melalui aktivitas bermain bersama. Fungsi bermain di masa masa peralihan ini adalah sebagai media melepaskan emosi negatifve, rasa cemas dan hal-hal lain yang tidak terungkap melalui perilaku. Jadwalkan waktu berkualitas bersama anak-anak, setiap hari untuk bermain bersama, di sela-sela kesibukan orangtua.

4. Menjadi teladan bagi anak. Orangtua bisa memulainya dengan mencontohkan mengenai protokol atau prosedur yang harus dilakukan sebelum bepergian ke luar rumah. Mengajarkan anak untuk menggunakan masker saat bepergian, dan bisa ditambahkan dengan jaket atau pelindung diri lainnya. Begitu tiba di rumah, ayah ibu mencontohkan untuk mencuci tangan menggunakan sabun setelah bepergian dari rumah. Dengan melihat perilaku orangtuanya, anak akan mencontoh dan mengingatnya. Jika kita sebagai orang tua saja abai dengan prosedur-prosedur ini, anak-anak pun akan menganggapnya abai.

5. Mengajarkan anak konsep bersyukur. Di situasi ini ada banyak hal yang terjadi di luar kcontrol kita sebagai manusia, maka mengajarkan anak untuk tetap memiliki kesadaran penuh mengenai hal-hal yang masih dapat ia lakukan selama masa transisi era baru menjadi hal penting. Ajarkan ia untuk berterima kasih pada Tuhan YME terkait kehidupannya saat ini misalnya syukur karena masih berada di rumah dengan aman, masih bisa bermain walaupun dalam rumah dan lain sebagainya. Hal ini pun nantinya akan memperkuat pemahaman anak terkait spiritual.