Sering disebut dalam percakapan orang tua sehari-hari, kenali lebih dekat tentang anemia pada anak.

 

Ragam hal terkait anak selalu menjadi topik menarik bagi para ibu. Selain tumbuh kembang dan perlengkapan bayi, penyakit yang menyerang anak juga tak luput dari pembicaraan. Nah, salah satu penyakit yang sering dibicarakan itu adalah anemia.

 

Biasanya, anemia pada anak akan menyebabkan si Kecil tampak pucat dan lemas. Namun, apa sebenarnya yang terjadi dalam tubuh anak yang mengalami anemia?

 

Kupas tuntas anemia

Secara sederhana, anemia adalah kondisi kekurangan darah dalam tubuh. Hal ini ditandai dengan kadar hemoglobin darah (Hb) yang turun hingga di bawah nilai normal.

 

Kadar hemoglobin sendiri berbeda di tiap usia. Namun secara umum, anak usia di atas 6 bulan kadar hemoglobin normalnya adalah >12 g/dL. Kurang dari angka tersebut, dapat dikatakan anak mengalami anemia.

 

Hemoglobin merupakan protein dalam sel darah merah (eritrosi) yang berfungsi untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh. Kekurangan hemoglobin akan menyebabkan oksigen yang dibawa akan berkurang sehingga tubuh akan kekurangan oksigen dan mengalami gangguan.

 

Anemia pada anak dapat juga terjadi karena banyak sebab. Misalnya karena kekurangan zat besi (disebut juga anemia defisiensi besi), kelainan bentuk sel darah merah (pada anemia sickle-cell atau thallasemia), infeksi berat, perdarahan, atau kurang gizi. Pada anak yang menginjak usia remaja, anemia juga dapat terjadi karena perdarahan saat menstruasi yang banyak.

 

Anemia sangat sering ditemukan terutama pada anak Indonesia. Faktor gizi kurang, pola makan tidak sehat adalah beberapa hal yang menyebabkan hal ini terjadi.

 

Anemia merupakan penyakit yang cukup mudah dideteksi melalui gejalanya, yaitu:

·      Kulit tampak pucat

·      Bibir dan wajah terlihat pucat, bagian putih pada mata (konjungtiva) tampak lebih pucat

·      Mudah lelah dan badan terasa lemas

·      Anak tampak kuning, terutama pada anemia akibat penghancuran sel darah merah

·      Pada anemia yang berat, gejalanya dapat berupa sesak napas, dada berdebar, tangan dan kaki bengkak, sakit kepala, pusing, hingga kehilangan kesadaran.

 

Apabila anak mengalami gejala-gejala di atas, segera bawa ke dokter. Dokter umumnya akan melakukan sejumlah pemeriksaan tambahan. Misalnya, pemeriksaan darah di lab, pemeriksaan apusan darah tepi untuk melihat bentuk dan ukuran sel darah merah, hingga pemeriksaan sumsum tulang apabila diperlukan untuk menilai komponen sel darah yang lain.

 

Melalui berbagai pemeriksaan tersebut, dokter akan mengetahui jenis anemia yang dialami anak, kemungkinan penyebabnya, dan menentukan penanganan yang sesuai. Secara umum, anak dengan anemia akan diberikan obat untuk menambah sel darah merah atau suplemen zat besi.

 

Anak juga akan diatur ulang pola diet yang tinggi zat besi dan diberi obat untuk mengatasi penyebab anemia. Bila diperlukan atau mengalami pendarahan berat, anak dapat diberikan transfusi darah.

 

Cara Mencegah Anemia

Seperti kata pepatah, mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Karena itu, pencegahan terhadap anemia memang lebih baik dan menguntungkan dibandingkan mengobatinya.

 

Beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua adalah:

 

·      Memberikan makanan tinggi zat besi, seperti daging, hati, telur, tomat, kacang-kacangan, sayuran hijau. Makanan ini harus dikenalkan pada anak sejak ia masuk masa MPASI (makanan pendamping ASI), yaitu di usia 6 bulan.

 

·      Tunda pemberian susu sapi hingga anak berusia 1 tahun. American Academy of Pediatrics tidak menyarankan pemberian susu sapi di bawah usia 12 bulan karena dapat meningkatkan risiko anemia.

 

Pasalnya, susu sapi dapat menurunkan penyerapan besi dalam usus. Anda boleh memberikan produk susu sapi di usia di atas 12 bulan dan didampingi dengan makanan yang tinggi zat besi.

 

·      Konsumsi vitamin C, karena dapat membantu zat besi dari makanan terserap dengan sempurna. Karena itu, perbanyak konsumsi makanan yang mengandung vitamin C, terutama setelah Anda mengonsumsi makanan dengan kandungan zat besi.

Contoh makanan tinggi vitamin C adalah buah-buahan, seperti jeruk, jambu, manga, apel, dan beberapa jenis sayuran.

 

Anemia pada anak harus segera diatasi agar tidak menghambat tumbuh kembangnya hingga akhirnya tidak optimal. Karena itu, cegah anemia dengan melakukan kiat-kiat di atas. Bila anak menunjukkan gejala anemia, jangan tunda untuk segera berkonsultasi ke dokter.