Penulis: Irma Gustiana Andriani, M.Psi, Psi

Pengalaman menghadapi kekalahan bagi anak umumnya memicu perasaan yang tidak menyenangkan. Kemampuan mereka memahami kompetensi yang terbatas, mengakibatkan anak bisa menjadi kesal, marah, menangis atau menampakkan emosi negatif lainnya. Jika mereka dibiarkan tidak bisa menerima kekalahan, bukannya tidak mungkin kelak ia menjadi dewasa yang posesif dan mau menang sendiri. Untuk itu orangtua dan lingkungan perlu mengenalkan mereka dengan sikap sportivitas dan mental yang positif, sehingga ketika ia menghadapi kekalahan ia akan bisa menerima dengan lapang dada. Sikap sportif ditandai dengan sikap menerima kekalahan dengan tetap menghargai dan menghormati orang lain dalam satu tim ataupun pihak lawan.

Nah, untuk membantu anak mengembangkan sikap sportif dan mental yang positif, ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh orangtua, yaitu:

  1. Mengajarkan anak untuk menikmati setiap pertandingan atau perlombaan
    Orangtua perlu menanamkan pada anak ketika ia mengikuti suatu pertandingan, maka ia perlu menikmati kegiatan tersebut. Minimalisir beban seperti kemenangan atau perlawanan dengan orang lain, sebaliknya selipkan pesan pada anak dengan kata-kata positif seperti “Selamat senang-senang ya, Nak” dengan demikian si kecil akan merasa kompetisi bukanlah beban yang mengharuskannya untuk selalu mendapatkan juara.

  2. Mengajarkan anak menerima kekalahan
    Dalam hal ini, orangtua perlu bersikap kalem atau tenang. Jangan menularkan keresahan pada anak ya, Mom. Jika si kecil kalah, orangtua menyikapinya dengan positif. Ungkapkan kalimat yang membuat ia tenang, misalnya, “Kakak sudah melakukan yang terbaik, Ibu bangga sekali padamu, Nak”. Dengan ungkapan tersebut, anak akan merasa tetap dihargai sekalipun ia tidak menjadi pemenang.

  3. Selalu menjadi supporter utama anak
    Anak kalah atau menang, tetaplah mendukungnya. Setia menemaninya bukan hanya saat ia menang saja, tetapi saat ia sedih dan kalah dari pertandingan. Hal ini akan menyadarkannya bahwa proses adalah hal yang sangat penting dibandingkan hasilnya.

  4. Perbanyak aktivitas yang merangsang sportivitas
    Coba lakukan beragam kegiatan dirumah, yang melatih anak bekerja sama dalam satu tim atau bisa juga saling berlawanan, misalnya adu kecepatan dan kerapihan dalam membereskan mainan atau kamar tidur. Sikapi proses yang dilakukan anak dan apresiasi keduanya, sehingga anak pun akan merasa menjadi individu yang kompeten.

  5. Jadi teladan bagi anak
    Menjadi orang dewasa yang ada disekitar anak dan memberikan contoh baik, seringkali memang tidak mudah ya, Mom. Contohnya, saat kita mengajak anak melihat suatu pertandingan dan tim unggulan kalah dari lawan, maka emosi yang orangtua tampilkan saat itu bisa diamati anak sebagai sesuatu yang tepat. Jika orangtua tidak bisa menerima kekalahan dan meluapkan emosi negatif, anak tentu akan mencontoh perilaku orangtuanya tersebut. Sebaliknya, jika orangtua sportif dan tetap menerima kekalahan timnya dengan lapang dada, anak pun akan mencontoh perilaku yang positif tersebut.


SEO/tag: sportivitas, anak sportif, anak, psikis anak