Dr. Reza Fahlevi (redaksi Klikdokter)

 

Jangan anggap sepele muntah yang terjadi pada anak. Bisa jadi itu merupakan suatu gejala penyakit yang berbahaya.

Muntah adalah salah satu hal yang paling sering terjadi pada anak-anak. Namun demikian, perlu dipahami bahwa muntah pada anak sebenarnya merupakan hal yang normal, terutama pada usia beberapa bulan pertama.

Namun, jangan pula anggap sepele muntah yang terjadi pada anak. Bisa jadi muntah yang dialaminya merupakan suatu gejala penyakit yang berbahaya. Lantas bagaimana cara membedakannya?

Penyebab muntah pada anak

Muntah disebabkan oleh terangsangnya reseptor muntah pada anak. Reseptor muntah paling banyak terdapat sepanjang saluran cerna dan rongga perut. Selain itu, juga terdapat pada telinga dan beberapa organ lain. Sinyal dari reseptor muntah ini akan dibawa ke otak hingga muncul refleks muntah yang diperintahkan oleh otak.

Muntah dapat menjadi gejala dari berbagai kelainan. Mulai dari infeksi atau kelainan saluran cerna, infeksi saluran napas, infeksi saluran kemih, infeksi darah, mabuk perjalanan, hingga penyebab-penyebab lain.

Muntah pada anak dapat dibedakan menjadi dua, yaitu muntah yang bersifat akut dan kronik.

Penyebab muntah akut pada anak yang paling sering adalah infeksi. Penyebab lainnya adalah keracunan makanan. Penyakit sumbatan saluran cerna juga dapat menyebabkan muntah yang bersifat akut pada anak dan harus diwaspadai.

Muntah kronik pada anak dapat disebabkan oleh kondisi fungsional yang relatif tidak berbahaya hingga penyebab lain yang harus ditangani. Misalnya alergi makanan, gastro-esofageal reflux, atau penyempitan saluran cerna.

Membedakan muntah normal vs abnormal

Selama beberapa bulan pertama bayi memang masih sering muntah, terutama setelah minum susu. Hal ini merupakan suatu hal yang normal.

Hal tersebut dikarenakan koordinasi pergerakan saluran cerna pada bayi yang baru lahir masih belum sempurna. Seiring dengan perjalanan waktu, frekuensi muntah pada bayi akan berkurang sesuai dengan perkembangan saluran cerna.

Muntah pada anak yang disertai demam dengan frekuensi 2–3 kali sehari tergolong masih lazim terjadi. Tapi dengan catatan muntah tidak berlebihan dan mengganggu asupan makan/ minum anak.

Jika muntah berlebihan hingga mengganggu asupan anak, maka anak akan berisiko mengalami dehidrasi. Oleh sebab itu anak harus segera mendapatkan pertolongan dokter.

Kapan muntah pada anak perlu diwaspadai sebagai suatu penyakit berbahaya? Berikut merupakan beberapa gejala/tanda muntah yang berbahaya pada anak:

  • Muntah berisi darah atau muntah disertai BAB berdarah
  • Muntah berwarna hijau
  • Muntah berisi feses
  • Muntah disertai perut yang sangat kembung
  • Muntah disertai nyeri perut yang sangat hebat
  • Muntah menyemprot
  • Muntah yang sertai dengan gejala sistem saraf seperti kejang atau penurunan kesadaran
  • Muntah yang disertai tanda dehidrasi
  • Muntah berulang dan kronik yang menyebabkan anak mengalami gangguan pertumbuhan atau penurunan berat badan
  • Muntah yang disertai adanya benjolan di dalam perut anak
  • Muntah disertai kuning

Nah, jika anak Anda mengalami muntah dengan gejala yang telah disebutkan di atas, Anda harus segera membawa anak ke dokter. Dengan demikian, anak bisa mendapatkan penanganan yang tepat. 

Mencegah muntah pada anak

Mencegah muntah pada bayi dapat dilakukan dengan memerhatikan posisi minum yang benar. Pastikan posisi kepala lebih tinggi 45–60 derajat saat anak minum susu dan sesaat setelah minum susu.

Bayi yang baru lahir bisa diberi minum setiap dua jam. Selanjutnya secara bertahap turunkan frekuensinya menjadi tiap tiga jam pada bayi di bawah usia 6 bulan. Minum susu terlalu sering juga dapat memicu muntah pada bayi.

Saat menyiapkan susu atau makanan anak, jangan lupa untuk terlebih dahulu mencuci tangan Anda. Menjaga kebersihan alat makan dan makanan, serta menjaga kualitas bahan makanan dan memasaknya dengan cara yang benar juga penting.

Setelah makan, ajak anak untuk beristirahat beberapa saat sebelum ia aktif bermain. Gerakan yang terlalu aktif sesaat setelah makan juga dapat memicu muntah pada anak.

Setelah tahu bagaimana cara membedakan muntah yang normal dan berbahaya pada anak, Anda kini dapat melakukan penanganan yang lebih tepat. Semoga si Kecil tetap sehat!