Mengajarkan konsep kejujuran pada anak perlu proses dan kesabaran, karena nilai moral tersebut adalah sesuatu yang abstrak bagi si kecil. Sesekali, bisa saja orangtua menangkap basah si kecil melakukan kebohongan, yang terlihat dari tindakan atau perkataannya yang mengada-ada. Fenomena bohong di usia prasekolah ini sebenarnya tidak perlu ditanggapi dengan perasaan marah atau cemas. 

Orangtua perlu memahami bahwa di usia 3-5 tahun anak sedang mengembangkan kemampuan berbicara dan kreativitas berpikir. Kadang mereka berbohong untuk hal-hal yang tidak penting, misalnya saja ketika mereka mengaku, “Aku juga punya lho kucing yang lucu seperti punyamu.” Padahal mungkin saja ia tidak memiliki kucing tersebut. Alasan yang masuk akal adalah si kecil sedang memiliki keinginan untuk terlihat eksis kehadirannya di antara teman-temannya atau ingin dianggap sama dengan temannya. 

Di usia prasekolah, pemahaman anak masih  terbatas mengenai mana yang benar dan salah. Di usia ini secara kognitif mereka mengembangkan konsep false believe atau pemahaman yang salah mengenai sesuatu. Keyakinan ini muncul akibat perilaku orangtua yang juga suka membohongi anak misalnya ketika anak bermain dan jatuh, maka orangtua akan mengatakan, “Nakal sih lantainya.” Padahal si kecil terjatuh karena ia kurang berhati-hati.  Contoh lain dari sikap orangtua yang secara tidak sadar membenarkan perilaku bohong seperti meminta anak untuk diam ketika mengetahui sesuatu, contohnya, “Jangan bilang-bilang siapa siapa ya, dek.”  Ucapan yang tampaknya ringan, ternyata bisa memberikan dampak yang luar biasa pada perkembangan psikologisnya. 

Ikuti kelanjutan artikel dengan mengklik Next Article pada halaman ini.