dr. Andika Widyatama (Redaksi Klikdokter)

Hidung si Kecil sering berair? Jangan-jangan mengalami alergi atau sinusitis. Yuk, pahami dulu kedua masalah yang berbeda tersebut!

Hidung berair kerap dialami hampir semua anak-anak. Sering kali para orang tua hanya menganggap kondisi tersebut sebagai sakit flu biasa. Padahal, gejala hidung berair dapat disebabkan oleh berbagai penyakit, di antaranya adalah alergi atau sinusitis. Anak patut dicurigai memiliki alergi atau sinustitis bila mengalami gejala hidung berair yang tidak kunjung sembuh dalam waktu hitungan minggu, bulan, bahkan tahun.

Apa itu alergi dan sinusitis?

Alergi adalah reaksi abnormal dari sistem imunitas terhadap zat asing yang dianggap sebagai pencetus alergi atau alergen. Alergen dapat berupa makanan, zat yang dihirup, obat yang dikonsumsi, maupun zat yang berkontak langsung dengan kulit.

Tungai debu, serbuk sari, dan sengatan serangga adalah beberapa hal yang sering menjadi alergen. Anak dengan orang tua yang memiliki riwayat alergi lebih berisiko mengalami alergi pula.

Gejala alergi umumnya timbul dalam 5-30 menit setelah tubuh terpapar dengan alergen. Selain hidung berair, reaksi alergi dapat menimbulkan gejala lainnya seperti ruam gatal pada kulit, batuk, sesak napas, nyeri perut, hingga diare. Pada kondisi yang berat, reaksi alergi dapat mengancam jiwa.

Sementara sinusitis merupakan kondisi terjadinya proses inflamasi atau peradangan pada sinus. Di mana, sinus sendiri adalah rongga yang berada di beberapa area dalam tulang tengkorak, yaitu belakang tulang dahi, kedua sisi batang hidung, belakang kedua tulang pipi, dan belakang kedua mata.

Umumnya, peradangan pada sinus terjadi karena infeksi oleh bakteri, virus, atau jamur. Selain itu, masalah kesehatan tertentu juga dapat meningkatkan risiko terjadinya sinusitis, seperti septum deviasi, polip hidung, dan alergi. Paparan terhadap polutan dan asap rokok juga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami sinusitis.

Ada pun beberapa gejala yang dapat timbul pada sinusitis, yaitu hidung berair, lendir berwarna kuning atau hijau, nyeri di sekitar pipi dan mata, sakit gigi, demam, dan bau mulut.

Lebih lanjut, sinusitis dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan durasi penyakitnya, yaitu sinusitis akut (2-4 minggu), sinusitis subakut (4-12 minggu), sinusitis kronis (lebih dari 12 minggu), dan sinusitis kambuhan (3 episode atau lebih per tahun, dengan setiap episode kurang dari 2 minggu).

Penanganan alergi dan sinusitis

Meskipun alergi dan sinusitis memiliki gejala yang sama berupa hidung berair, namun keduanya jelas berbeda secara keseluruhan. Seperti yang telah dijelaskan di atas, keduanya memiliki gejala-gejala, faktor risiko, penyebab, dan perjalanan penyakit yang berbeda. Dengan begitu, penanganannya pun akan berbeda.

Prinsip utama penanganan alergi adalah dengan menghindari alergen sebelum timbul reaksi alergi. Namun, jika reaksi alergi sudah terlanjur terjadi, maka perlu diberi pengobatan segera. Pengobatan yang dapat diberikan pada alergi biasanya dengan obat anti alergi seperti antihistamin.

Selain itu, beberapa jenis obat juga diperlukan untuk meredakan gejala yang muncul pada reaksi alergi, misalnya obat dekongestan dan tetes mata. Terakhir, tentu saja menghindari alergen hal yang penting untuk meredakan reaksi alergi yang terjadi.

Pada sinusitis, terapi dapat dilakukan dengan beberapa pengobatan maupun operasi, tergantung dari kondisi sinusitis yang terjadi. Beberapa obat yang digunakan adalah obat anti radang kortikosteroid, obat dekongestan, dan obat anti nyeri.

Antibiotik hanya diberikan jika sinusitis disebabkan oleh infeksi bakteri. Sementara pada sinusitis yang disebabkan alergi, penanganannya dilakukan sama seperti penanganan alergi pada umumnya. Sedangkan tindakan operasi dapat dilakukan bila sinusitis tidak membaik dengan terapi pengobatan atau pun adanya polip dalam hidung.

Jadi, sudah tahu kan bahwa alergi dan sinusitis adalah dua kondisi yang berbeda? Kalaupun ada gejala hidung berair pada keduanya, Anda harus memperhatikan gejala-gejala penyertanya serta pola perjalanan penyakit yang dapat membedakannya. Selain itu, kenali pula faktor risiko yang dimiliki anak Anda. Namun, untuk memastikannya, pemeriksaan oleh dokter memang dibutuhkan lebih lanjut.