Penulis: Irma Gustiana Andriani, M.Psi, Psi

Marah adalah suatu bentuk emosi yang normal dirasakan oleh manusia. Namun jika marah menjadi berlebihan yang mengarah pada perilaku marah-marah dan terkadang disertai dengan agresivitas baik secara lisan atau tindakan, tentu hal tersebut akan berdampak buruk pada diri sendiri dan juga orang lain yang sekitarnya. Sama halnya dengan orang tua yang marah berlebihan pada anak, tentu akan berdampak buruk pada perkembangan psikologis anak.

Dari suatu penelitian di Oregon State University, dengan mengumpulkan data dari 361 keluarga di 10 negara ditemukan bahwa reaksi kemarahan berlebihan orang tua pada anak berdampak signifikan terhadap perkembangan anak-anak mereka. Selain menunjukkan emosi yang negatif, anak-anak ini juga kesulitan dalam mengatur emosinya dan menjadi bermasalah ketika berada di sekolah. Anak juga akan belajar bahwa untuk menyelesaikan suatu masalah maka harus dilakukan dengan marah-marah.

Kata-kata negatif yang seringkali didengar oleh anak saat orang tuanya marah, seperti omelan, teriakan, tuduhan, cacian, intimidasi, ancaman, atau kritikan yang berlebihan akan berpengaruh pada pembentukan kepribadian anak. Orang tuanya saja memiliki pemikiran negatif tentang anaknya, bagaimana dengan perasaan anak? Ia akan merasa rendah diri, tidak punya harapan, kurang percaya diri, sedih, putus asa dan yang paling  berat adalah depresi yang bisa berujung pada kehilangan nyawa. Tentu kita sebagai orang tua tidak menginginkan hal tersebut terjadi bukan? Masih ada harapan bila orang tua mau belajar dan berubah untuk menjadi orang tua yang positif.

Ada beragam cara yang dapat dilakukan orang tua untuk mengelola kemarahannya, agar tidak berdampak buruk pada perkembangan anak, berikut saran praktisnya:

  1. Ketika mulai merasa marah, coba kendalikan diri dengan melakukan olah pernafasan. Tarik dan buang nafas yang dalam serta iringi dengan pikiran positif.
  2. Self Talk atau bicara pada diri sendiri. Ada kalanya kita marah berlebihan pada anak karena standar yang kita tetapkan tidak dapat dipenuhi oleh anak. Cobalah untuk tetap tenang dan bicaralah pada diri sendiri, dengan menerima kenyataan bahwa kemampuan anak memang belum sempurna.
  3. Berempatilah dengan keadaan anak, tentu orang tua juga perlu untuk melihat sesuatu dari cara pandang anak yang masih sederhana. Lakukan refleksi diri, mungkin saja perintah atau tugas yang anda berikan pada anak terlalu sulit dan tidak mudah diterapkan anak.
  4. Lakukan banyak aktivitas fisik seperti olahraga. Kegiatan olahraga dapat bermanfaat untuk melepaskan ketegangan dan kemarahan serta memberikan mood yang positif.
  5. Lakukan hal yang menjadi hobi atau kebiasaan positif. Sama halnya dengan olahraga, mengerjakan hobi dapat meningkatkan mood yang baik dan mengurangi ketegangan.
  6. Jika sulit untuk mengelola kemarahan, ada baiknya mencari bantuan dari para ahli seperti psikolog, agar Anda bisa mendapatkan arahan