dr. Karin Wiradarma Redaksi Klikdokter.com

 

Mengajarkan puasa pada anak, harus mempertimbangkan faktor usia. Usia yang tepat akan memudahkan anak menerima apa yang Anda sampaikan.

Tak terasa, sebentar lagi akan datang bulan suci Ramadan. Seluruh umat Muslim akan menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh, dengan menahan lapar dan haus sejak matahari terbit hingga matahari terbenam.

Meskipun pada hukumnya memang anak kecil tidak wajib berpuasa, namun tidak ada salahnya mengajarkan anak berpuasa sejak dini. Tapi tentu saja dengan tetap memperhatikan keadaan anak dan menyesuaikan dengan kemampuannya.

Waktu yang tepat ajarkan anak berpuasa

Para ahli berpendapat bahwa berpuasa seharian penuh baru dapat dilakukan apabila anak sudah mencapai pubertas, yakni dimulai pada usia 8–12 tahun untuk anak perempuan dan 9–13 tahun untuk anak laki-laki. Setiap anak akan mengalami waktu pubertas yang berbeda-beda.

Pada anak perempuan, pubertas awal ditandai dengan breast budding (pembesaran payudara), diikuti dengan pertambahan tinggi yang cepat (growth spurt), pertumbuhan rambut pubis, dan diakhiri dengan menstruasi.

Sementara itu, pada anak laki-laki pubertas diawali dengan pembesaran testis dan penis, pertumbuhan rambut pubis, growth spurt, dan diakhiri dengan keluarnya sperma –atau disebut juga dengan mimpi basah.

Anak yang lebih kecil dari usia pubertas dikhawatirkan masih belum dapat bertahan tanpa asupan makanan dan cairan jika harus berpuasa selama seharian penuh. Apabila dipaksakan, dikhawatirkan anak dapat mengalami kekurangan gizi dan dehidrasi.

Lebih jauh lagi, performa anak di sekolah dapat menurun, serta anak lebih mudah pingsan dan jatuh sakit apabila dipaksakan berpuasa sebelum waktunya.

Meskipun demikian, apabila anak sudah mendekati usia tersebut –misalnya usia 7 tahun, anak umumnya sudah mengerti dan menunjukkan ketertarikan terhadap berpuasa. Selain itu, pada umumnya anak juga sudah lebih bisa menahan haus dan lapar, meskipun hanya sebentar.

Oleh karena itu, pada usia tersebut Anda mulai dapat mencoba memundurkan jam makan siang anak selama beberapa jam. Atau jika ia sudah lebih terbiasa, Anda dapat mengajarkannya berpuasa setengah hari.

Teladan dari orang tua

Dalam mengajarkan anak menjalankan ibadah puasa, teladan atau contoh dari orang tua untuk berpuasa sangat penting bagi anak. Meskipun anak belum berpuasa, tidak ada salahnya Anda mengajarkan sedikit demi sedikit mengenai puasa, bagaimana menyiapkan, dan melakukan kegiatan sahur hingga berbuka.

Dengan dilibatkan seperti itu, anak pun lama-kelamaan dapat menunjukkan ketertarikannya terhadap puasa. Dengan demikian, Anda akan lebih mudah untuk mengajarkan dan mengajak anak berpuasa ketika sudah tiba saatnya kelak.

Manfaat berpuasa bagi kesehatan anak

Berpuasa bagi anak yang belum akil balig memang bukan suatu kewajiban. Meski demikian, tak ada salahnya Anda mengajarkan puasa sejak dini kepada anak. Dengan menjalankan puasa, ternyata banyak manfaat yang akan diperoleh si Kecil, salah satunya adalah ia akan dididik untuk lebih disiplin dan menghargai waktu.

Tak hanya itu, berikut ini adalah manfaat berpuasa bagi anak lainnya baik dari segi fisik maupun psikis:

  1. Melatih anak mengendalikan emosi. Karena secara otomatis anak akan belajar berdisiplin, jujur, dan mengendalikan diri lewat menahan lapar dan haus.
  2. Melatih anak beribadah. Hal ini bisa Anda lakukan lewat shalat berjamaah, mengaji bersama, atau mendaftarkannya untuk mengikuti pesantren kilat.
  3. Membangun rasa empati. Dengan berpuasa, anak lebih menghargai makanan dan memahami saudara-saudaranya yang tidak bisa makan setiap hari.
  4. Menyeimbangkan sistem pencernaan. Dengan berpuasa, tubuh akan membuang racun dalam tubuh, sehingga pencernaan pun lebih bersih.
  5. Tubuh anak lebih sehat. Sebab dengan berpuasa anak terhindar dari kemungkinan jajan di luar yang tidak sehat. Pola dan menu makanan pun diatur oleh orang tua, sehingga asupan gizi anak lebih terjaga.

Untuk anak yang belum mampu menjalankan ibadah puasa, sebagai orang tua Anda dapat menuntun anak untuk tetap turut berpartisipasi dalam bentuk lain. Misalnya dengan ikut beribadah, sholat tarawih bersama, bersedekah kepada saudara yang membutuhkan, dan lain sebagainya.

Apabila sudah diperkenalkan puasa sejak dini, maka ketika saatnya tiba, anak Anda akan lebih siap untuk menjalankan ibadah puasa. Sehingga, Anda dan anak akan lebih lancar dalam menjalani ibadah puasa bersama. Selamat berpuasa!

Sumber :

https://pediatriceducation.org/2011/10/10/when-should-children-begin-fasting/

https://www.washingtonpost.com/news/food/wp/2017/06/09/kids-and-ramadan-no-fast-but-a-focus-on-more-good-deeds/?noredirect=on&utm_term=.a1e93b8dea12

https://www.telegraph.co.uk/news/religion/11669767/Primary-schools-ban-children-from-fasting-during-Ramadan.html