Memasukkan balita ke sekolah tampaknya telah menjadi suatu kebutuhan bagi para orangtua muda di zaman sekarang. Orangtua merasa penting untuk menyekolahkan anak sejak dini dengan berbagai alasan. Padahal, alasan tersebut seringkali tidak menguntungkan bagi anak di usia dini, contohnya agar lekas pandai membaca menulis dan berhitung. Di sisi lain, menjamurnya bisnis pendidikan pra sekolah dengan berbagai variasi biaya dan program,  membuat orangtua memiliki harapan yang tinggi pada institusi yang dituju.

Tetapi, apakah ada keharusan anak untuk masuk ke pra sekolah? Jawabannya: tidak harus, Moms! Apabila di rumah anak berada dalam pengawasan yang baik dan mendapatkan stimulasi yang tepat sesuai dengan usianya, maka hal tersebut telah cukup untuk tumbuh kembang anak. Bagaimana pun, sekolah yang terbaik adalah rumah dan guru terbaik adalah orangtuanya. Orangtua yang telah mampu menerapkan pola asuh yang tepat, akan mendukung pembentukan karakter baik.

Jadi kondisi apa saja yang dapat dijadikan indikator untuk memasukkan anak ke pra sekolah?

  1. Saat orangtua tidak mengerti dan tidak tahu bagaimana cara memberikan stimulasi yang tepat sesuai usia anak.
  2. Saat anak memiliki minat yang cukup kuat pada sekolah, sehingga orangtua perlu mempertimbangkan keinginan anak tersebut.

Nah, orangtua tentu perlu sangat berhati-hati sekali, jangan sampai keputusan menyekolahkan anak di usia dini akan berdampak buruk bagi perkembangan psikologisnya, apalagi jika sampai memaksa anak.  Ada 2 persiapan yang perlu diperhatikan, yakni :

1. Persiapan Fisik

Persiapan fisik merupakan aspek yang penting diperhatikan bagi balita. Umumnya mereka harus mendapatkan serangkaian imunisasi agar daya tahan tubuhnya terjaga dengan baik. Karena ketika anak bersekolah, ia akan melakukan kontak dengan lingkungan yang lebih luas. Selain imunisasi, orangtua juga perlu memperhatikan kebutuhan dasar lainnya seperti makan, minum, dan tidur yang cukup agar kesehatan anak tetap terjaga.

2. Persiapan Mental

Untuk persiapan mental, orangtua perlu sekali melatih anak di rumah dengan beberapa kemampuan, agar ia tidak kesulitan beradaptasi.  Adapun persiapan mental yang harus dilakukan adalah :

  • Mengajarkan kemandirian sesuai dengan usianya, seperti makan dan minum sendiri,  menyatakan keinginan untuk ke kamar mandi atau mengontrol keinginan untuk buang air (toilet training). Selain itu, ajarkan ia juga untuk bertanggung jawab sesuai dengan kemampuannya, misalnya membereskan mainan setelah bermain.

  • Melatih kesiapannya berpisah penting sekali lho, Moms. Anak yang siap ke sekolah biasanya menunjukkan kesan yang positif dengan lingkungan sekolahan. Agar anak tidak cemas dan takut saat menghadapi situasi baru, orangtua perlu mensosialisasikan aktivitas yang menyenangkan di sekolah yang dituju.

  • Usia tentu sangat penting diperhatikan sebelum memasukkan anak ke sekolah. Umumnya, anak usia 3-4 tahun telah cukup siap untuk dilibatkan pada kegiatan sekolah. Di usia ini anak sedang belajar untuk mengembangkan keterampilan sosialnya sehingga cukup tertarik pada kehadiran teman sebayanya.

Anak akan lebih siap bersekolah apabila ia telah memiliki kesadaran mengenai dirinya sendiri, misalnya mampu mengenali nama sendiri, usia dan nama orangtuanya. Hal ini menjadi dasar kegiatan “berkenalan” anak dengan lingkungan guru dan teman sebaya.