Penulis: Irma Gustiana Andriani, M.Psi, Psi

Menandai anak yang bahagia sesungguhnya sangat mudah, beberapa ciri diantaranya adalah tidak mudah rewel atau menangis, mudah beradaptasi dengan lingkungan baru termasuk mengikuti aturan dan berkenalan dengan orang baru, ceria, sehat, senang tersenyum, memiliki pola makan yang teratur dan tidur dengan nyenyak.

Sebaliknya anak yang tidak bahagia akan menunjukkan perilaku dan gejalanya seperti munculnya reaksi psikosomatik, termasuk problem pencernaan, sakit kepala, kelelahan, gangguan tidur, dan masalah sewaktu buang air. Tanda lainnya seperti sering menangis, senang menyendiri, rewel, tidak mau berangkat ke sekolah atau suatu tempat, membuat kenakalan di sekolah atau di lingkungan tempat bermainnya, penurunan nilai sekolah.

Biasanya anak-anak yang bahagia berasal dari orang yang bahagia pula dan lingkungan yang terbebas dari berbagai tekanan yang sifatnya negatif. Umumnya jika anak dididik dalam lingkungan yang hangat dan penuh kasih sayang maka anak menjadi anak yang bahagia, sebaliknya jika anak berada dalam lingkungan yang penuh dengan tekanan maka anak menjadi labil dan mudah mengalami stres.

Stres secara umum dapat diartikan sebagai bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Stres dapat membuat anak menjadi tidak produktif atau kurang bersemangat sehingga lebih rentan mengalami masalah psikologis. Hal itu dikuatkan dengan hasil riset Robert M. Sapolsky, seorang professor dari Universitas Stanforfd menyatakan bahwa stres pada anak dapat menyebabkan syaraf-syaraf otak terhambat perkembangannya.

Dari beberapa penelitian yang ditemukan beberapa sumber stres (stressor) yang paling sering muncul yaitu sekolah, orang tua, hubungan pertemanan, dan relasi dengan saudara kandung. Walaupun demikian, masih banyak sumber  stres lain yang dapat menghambat perkembangan mental seorang anak. Faktor sekolah, seringkali dianggap sebagai sumber stres bagi anak karena disekolah banyak sekali aturan dan tuntutan belajar yang harus diikuti oleh anak. Bagi anak yang tidak mampu mengatasi tekanan, maka akan semakin mudah baginya merasa tidak nyaman dan tegang. Hal itu juga berkorelasi dengan pola asuh yang diterapkan oleh orang tua. Orang tua yang terlalu banyak menuntut tetapi tidak memberikan dukungan, akan menyebabkan anak menjadi tertekan dan tidak bahagia.

Bila orang tua mengamati anak terlihat kurang bahagia atau menunjukkan adanya indikasi stres, beberapa hal dibawah ini dapat dilakukan orang tua untuk membantu anaknya adalah:

1.       Memperbaiki pola pengasuhan.

Bila selama ini orang tua cenderung otoriter atau sebaliknya serba memanjakan, sebaiknya rubah strategi pengasuhan. Orang tua boleh memberikan kebebasan, namun tetap dalam pengawasan. Berikan aturan yang jelas, mengapa aturan tersebut diberikan dan konsekuensi apabila peraturan dilanggar. Namun, jangan lupa untuk memberikan pujian jika anak Anda bersikap positif.

2.       Hindari membuat tuntutan yang berlebihan.

Orang tua menginginkan anaknya mencapai yang terbaik dalam hal apapun, tetapi jangan tetapkan target yang tidak dapat dicapai oleh anak. Target haruslah sesuai dengan kemampuan dan usia anak. Apalagi anak gagal mencapai tuntutan lingkungan, jangan menghukum atau mengejeknya, tetapi bantulah anak agar dapat menjadi lebih baik di kemudian hari. Jika tuntutan lingkungan tinggi, maka dukungan dari orang tua juga harus tinggi sehingga anak merasa diberikan perhatian dan arahan.

3.       Jalin kedekatan dengan anak dan komunikasi yang terbuka.
Kedekatan orang tua dengan anak akan membantu seorang anak terbuka terhadap orang tua dan leluasa menjadikan orang tua sebagai tempat curhat. Anak dapat menceritakan kejadian yang tidak menyenangkan yang dialaminya saat di sekolah atau di luar rumah. Dengan mengungkapkan isi pikirannya, akan membantu anak untuk mengurangi perasaan cemasnya.

4.       Asah kemandirian anak.
Seorang anak pada saatnya harus menjadi mandiri, karena tidak mungkin orang tua terus menerus mengawasinya. Maka, bantu anak dengan melatihnya untuk membuat keputusan yang diperlukan. Hal ini dapat membantu anak jika suatu saat ia harus membuat keputusan tanpa bantuan orang tua. Anak yang mandiri juga akan lebih dapat menyelesaikan masalahnya dan menangani saat dia merasa tidak nyaman sehingga mencegah anak mengalami stres.

5.       Berikan makanan sehat dan tidur cukup.
Karena asupan gizi dapat mempengaruhi stres anak, maka sajikan makanan yang bergizi untuk anak. Jangan membiasakannya dengan makanan cepat saji, soft drink, atau jajanan lain yang tidak bergizi. Juga biasakan anak agar makan dengan teratur dan tepat waktu. Sedangkan untuk membantu anak cukup tidur, bantu anak agar memiliki jadwal yang baik.

 

6.       Ajari dan kenalkan manajemen stres. Sejak anak berusia dini ajari manajemen stres yang baik, seperti mendengarkan musik, menarik nafas panjang dan dalam, memeluk bantal, relaksasi, bermain, melakukan aktivitas fisik, serta memijat bagian tubuh.