Penulis: Irma Gustiana Andriani, M.Psi, Psi

 

Pernahkah Moms melihat si kecil akhir-akhir ini asyik berbicara sendirian saat sedang bermain dan beraktivitas? Seolah-olah ia sedang sedang berbicara dengan seseorang namun, orangtua yang disekitarnya tidak melihat ada siapapun bersamanya. Dan ketika Moms bertanya apa yang sedang ia lakukan, si kecil akan menjawab, bahwa ia sedang bermain dengan teman barunya yang bernama Ben sambil menunjuk ke suatu arah, dimana kita tidak meliat teman yang ia tunjuk. Pada fase ini ia telah menciptakan teman khayalannya, untuk diajak bermain.

 

Melihat situasi ini, banyak orangtua yang merasa khawatir dengan perilaku anaknya tersebut dan mengajukan pertanyaan ke diri sendiri "Apakah ini normal?"

 

Berikut adalah beberapa pertanyaan yang lebih sering diajukan terkait dengan keberadaan teman khayalan yang diciptakan anak;

 

Wajarkah anak menciptakan teman khayalannya?

 

Memiliki teman imajiner adalah hal yang umum di usia prasekolah. Teman yang seringkali diciptakan anak sebagai teman pura-pura adalah objek yang dipersonifikasikan seperti boneka beruang yang dapat berbicara dan bermain dengan seorang anak atau terkadang itu adalah teman tak terlihat. Menurut sebuah studi dari University of Oregon, pada usia tujuh tahun, 65 persen anak-anak memiliki teman khayalan. Penelitian juga menunjukkan bahwa anak tertua atau satu-satunya, lebih mungkin untuk menciptakan teman khayalan

 

 

Haruskah orang tua khawatir?

 

Hal ini bukan alasan untuk dikhawatirkan, karena berdasar tahapan tumbuh kembang anak, keberadaan teman khayalan ini merupakan hal yang wajar untuk anak pra sekolah. Dengan pengalaman sederhana yang ia dapatkan, melalui pengamatan, memperhatikan dan mendengar berbagai hal di kesehariannya, dirinya mampu menciptakan dunianya sendiri. Imajinasinya ini ditunjang dengan perkembangan bahasanya yang juga sedang berkembang, sehingga ia lebih leluasa mengeksplorasi dunia nyata.

 

Mengapa anak-anak menciptakan teman khayalan?

 

Menurut Kimberly Eckert, seorang psikolog di Calgary, anak-anak sering membuat teman bermain hanya untuk terlibat dalam permainan imajinatif.  Teman khayalan dapat digunakan sebagai bentuk menenangkan diri sendiri selama masa transisi dari suatu peristiwa seperti menyesuaikan diri dengan lingkunngan rumah atau saudara baru. Ini adalah cara bagi anak-anak untuk mempraktikkan keterampilan sosial di lingkungan di mana mereka bisa belajar untuk memegang kendali terhadap apa yang ada disekitarnya.

 

Kapan teman khayalan pergi dalam kehidupan anak?

 

Teman khayalan biasanya menghilang pada saat anak berusia 5 tahun atau saat bersekolah, karena disaaat anak bersekolah ia telah mengembangkan kemampuan dan keterampilan sosial dan berinteraksi nyata. Namun, jika anak masih memiliki teman imajiner di saat menginjak kedlas satu atau dua, lakukan evaluasi perkembangan untuk mengecek apakah fungsi kehidupan sosial anak normal atau ada hambatan.

 

Solusi bagi orangtua?

 

Orangtua disarankan untuk membangun hubungan yang akrab dan lekat dengan anak, sehingga bisa semakin memahami apa yang dibutuhkan anak dan lebih tepat dalam menyikapi keberadaan teman khayalannya. Selain itu, coba rancang akivitas bermain dengan teman atau tetangga dekatsehingga ia akan belajar mendapatkan rasa senang dengan interaksi nyata.

 

Baca Juga