Penulis: dr. Sara Elise Wijono

 

Saat kepala anak terkena benturan hingga cedera, orang tua pasti khawatir akan terjadinya gegar otak. Tapi, mungkinkah hal itu terjadi?

 

Ketika sedang bermain atau beraktivitas fisik, sering kali anak terjatuh atau terbentur kepalanya, bahkan terkadang hingga mengalami cedera hebat. Jangan remehkan, karena bisa jadi si Kecil mengalami gegar otak.

 

Gegar otak sendiri merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan cedera pada otak akibat trauma atau benturan di kepala. Dalam dunia medis, keadaan ini dikenal dengan istilah trauma kepala atau traumatic brain injury.

 

Kondisi ini dapat terjadi pada siapa pun yang mengalami benturan pada kepala, baik orang dewasa maupun anak-anak.

 

Gegar otak pada anak dan gejalanya

Menurut data Centers for Disease Control and Prevention (CDC), pada anak, kelompok usia yang lebih berisiko terkena gegar otak adalah usia 0-4 tahun dan 15-19 tahun.

 

Beberapa hal yang sering kali disebut sebagai penyebabnya adalah jatuh (50,2 persen), menabrak atau tertabrak (24,8 persen), kecelakaan kendaraan bermotor (6,8 persen), tindak kekerasan (2,9 persen), dan sebab-sebab lainnya (15,3 persen).

 

Khusus pada anak di bawah 2 tahun, cedera pada kepala, memiliki tantangan tersendiri. Sebab, pemeriksaan terhadap anak lebih sulit dilakukan dan gegar otak sering kali tidak bergejala.

 

Cedera yang ringan saja, dapat menimbulkan retak pada tulang tengkorak dan lebih mudah terjadi kerusakan otak.

 

Untuk membedakan tingkat keparahan trauma pada kepala sendiri, ada beberapa hal yang digunakan. Di antaranya adalah skor kesadaran anak, adanya riwayat pingsan pasca cedera kepala, serta amnesia terhadap kejadian-kejadian pasca cedera kepala.

 

Setelah hal-hal tersebut dianalisis, maka hasilnya adalah:

 

  • Trauma kepala ringan

Skor kesadaran cukup baik. Apabila ada riwayat pingsan, maka terjadi kurang dari setengah jam. Apabila ada amnesia, maka terjadi kurang dari 24 jam.

  • Trauma kepala sedang

Skor kesadaran lebih menurun serta adanya pingsan dan/atau amnesia selama 1-24 jam.

  • Trauma kepala berat

Si Kecil mengalami koma, pingsan lebih dari 24 jam, dan amnesia lebih dari 7 hari.

 

Sayangnya, gejala trauma kepala pada si Kecil bisa baru muncul bertahun-tahun setelah kejadian. Hal ini disebabkan oleh sifat otak si Kecil yang masih berkembang, sehingga berbeda dengan orang dewasa. Contoh gejala-gejala tersebut adalah:

 

  • Fisik. Sakit kepala, kelemahan, atau bahkan lumpuh.
  • Pendengaran. Gangguan pendengaran atau keseimbangan.
  • Penglihatan. Penglihatan ganda (double vision) dan sensitif terhadap cahaya.
  • Gangguan indra lainnya –seperti rasa, penciuman, atau sentuhan.
  • Fungsi kognitif. Sulit berkonsentrasi, sulit mengorganisasi dan menyelesaikan masalah, mudah bingung saat memroses informasi, serta gangguan memori dan belajar.
  • Berbahasa. Sulit memulai percakapan dan mempertahankan topik percakapan, sulit memahami percakapan atau konsep abstrak, dan sulit memahami bahasa tertulis.
  • Bicara. Kesulitan berbicara secara jelas.
  • Perilaku. Gelisah, cemas, agresif, perubahan pola tidur, dan mood mudah berubah.

 

Pada bayi atau si Kecil yang belum dapat berkomunikasi dengan baik, Anda harus memperhatikan lebih lanjut jika muncul gejala-gejala sebagai berikut:

 

  • Perubahan kebiasaan tidur, bermain, makan, dan kemampuan memperhatikan.
  • Rewel dan menangis terus-menerus tanpa bisa ditenangkan.
  • Mengantuk terus-menerus.
  • Sensitif terhadap cahaya dan suara.

 

Mengatasi gegar otak pada anak

Pasca terjadinya benturan pada kepala, sebaiknya segera periksakan si Kecil apabila menunjukkan gejala tertentu. Gejala yang sebaiknya diperhatikan antara lain tampak bingung atau gelisah, dan tidur terus atau tidak sadar.

 

Gejala lain yang juga penting untuk diamati adalah kejang, muntah berulang-ulang (terutama pada pagi hari), mengeluh sakit kepala yang terus memburuk, keluar darah atau cairan dari telinga dan hidung, gangguan gerak, serta tampak benjolan pada ubun-ubun (khusus pada bayi).

 

Pada kasus akut, petugas medis akan menangani cedera kepala atau gegar otak dengan pemberian obat untuk mencegah kenaikan tekanan dalam kepala, demam, dan juga nyeri.

 

Si Kecil juga akan diawasi dengan ketat untuk memantau gejala lain yang timbul, atau perbaikan pada gejala yang ada. Pada keadaan tertentu, bisa saja diperlukan pembedahan. Misalnya, bila ada yang patah pada tulang dasar tengkorak.

 

Namun, tidak semua kasus cedera kepala memerlukan perawatan di rumah sakit. Apabila si Kecil disarankan rawat jalan, hal yang bisa Anda lakukan di rumah adalah:

 

  • Buat si Kecil bed rest selama 3 hari
  • Awasi si Kecil dengan rutin untuk menilai perburukan gejala, misalnya 2-3 jam sekali, terutama pada 3 hari pertama setelah kejadian.
  • Hindari pemberian obat anti muntah karena dapat menutupi gejala muntah yang merupakan perburukan gejala pada kasus cedera kepala. Namun, obat anti nyeri tetap dapat diberikan pada si Kecil.

 

Perlu diingat bahwa setengah kasus cedera kepala pada anak berhubungan dengan jatuh. Jadi, salah satu langkah pencegahan yang baik adalah dengan menghindari hal tersebut.

 

Anda dapat melakukannya dengan selalu mengawasi si Kecil, memasang safety belt anak pada mobil atau stroller, pegang tangannya saat menaiki eskalator, memakaikan helm saat si Kecil bersepeda, dan sebagainya.

 

Dengan melakukan hal-hal di atas, Anda telah berusaha meminimalkan timbulnya cedera kepala atau gegar otak pada anak, yang mungkin bisa menimbulkan dampak kesehatan jangka panjang baginya. Kalaupun sampai terjadi, segera kenali gejalanya agar dapat segera ditangani.

 

 

 

Baca Juga