Penulis: dr. Devia Irine (Redaksi Klikdokter.com)

 

Penyakit asma bisa menghambat aktivitas sehari-hari anak. Apa yang dapat dilakukan orang tua untuk menanganinya?

Asma merupakan penyakit kronis yang terjadi pada saluran pernapasan. Kondisi ini dapat menyerang segala usia, dari bayi, anak-anak hingga orang dewasa. Umumnya asma memunculkan gejala sesak napas disertai dengan mengi (bunyi “ngik” saat mengeluarkan napas) dan batuk, terutama saat udara dingin.

Terjadinya asma tidak lepas dari faktor internal dan faktor eksternal anak tersebut. Faktor internal asma terkait dengan genetik atau keturunan. Sedangkan faktor eksternal adalah keadaan lingkungan sekitar anak, seperti debu, tungau, asap, dan serbuk sari.

Banyak orang tua bertanya apakah asma bisa disembuhkan secara permanen. Jawabannya tidak. Asma bukanlah penyakit yang bisa langsung sembuh dengan obat sekali minum, melainkan harus dikendalikan.

Ada dua jenis pemberian obat pada penderita asma. Pertama, pemberian obat pada saat serangan terjadi, dan yang kedua adalah pemberian obat untuk mengontrol agar tidak terjadi serangan.

Perlu diketahui juga bagi orang tua bahwa asma tidak hanya dapat dikendalikan dengan obat. Asma juga bisa dikontrol dengan menghindari faktor pencetus. Berikut tips lengkapnya untuk mencegah asma anak kambuh:

Menghindari pencetus

Menghindari pencetus merupakan salah satu penanganan utama asma. Ini sangat penting sebab kegagalan menghindari faktor pencetus merupakan penyebab terbesar anak sering mengalami serangan. Untuk itu, orang tua harus lebih peka terhadap pemicu kambuhnya asma pada anak.  

Misalnya: jika anak sesak setiap kali terpapar debu atau tungau, upaya-upaya yang dapat Anda lakukan adalah membersihkan debu setiap hari, melakukan pengisapan dengan high efficiency particulate air (HEPA) filter setiap minggunya, tidak memberikan boneka berbulu, dan menghindari penggunaan karpet. 

 

2.      Menjaga kondisi emosional anak

Menjaga emosional anak agar tidak mudah marah maupun tertekan juga dapat mengurangi kekambuhan asma. Ketika emosi anak membuncah, akan terjadi perubahan kadar hormon dalam tubuh yang kemudian mengirimkan sinyal ke otak. Perubahan hormon inilah yang dapat menyebabkan saluran napas menyempit pada anak yang memiliki hipersensitivitas seperti asma.

 Olahraga

Siapa bilang anak yang memiliki asma tidak boleh berolahraga? Meski paru-paru anak asma termasuk sensitif, bukan berarti ia harus berhenti berolahraga. Sebagai orang tua, Anda bisa memilih olahraga yang aman bagi mereka.

Salah satu olahraga yang disarankan untuk anak asma adalah berenang. Berenang yang dilakukan rutin akan membantu menguatkan otot-otot pernapasan sehingga memperbaiki keadaan paru-paru. Selain berenang, Anda bisa mengajak anak untuk melakukan olahraga yang intensitasnya ringan-sedang, misalnya bersepeda santai, jalan santai, atau senam ringan.

Prinsipnya, setiap olahraga yang dilakukan haruslah bebas dari polusi (asap kendaraan dan asap rokok), juga perlu memilih tempat yang suhunya tidak ekstrem (terlalu panas atau terlalu dingin). Hindari pula olahraga yang berat karena kelelahan juga dapat memicu serangan asma. Dengan melakukan olahraga secara teratur, tak hanya berguna untuk mengurangi angka kekambuhan serangan, tetapi juga membuat tubuh anak kuat dan sehat.

 

Jangan menganggap asma sebagai suatu penyakit yang menakutkan. Asalkan anak dapat mengendalikannya dengan cara menghindari pencetus, mengatur kondisi emosional serta rajin berolahraga, niscaya angka serangan asma akan berkurang. Dengan berkurangnya angka serangan, kualitas hidup anak juga akan meningkat. Anak menjadi bebas mengeksplorasi dunia dengan berbagai aktivitas tanpa takut sesak napas menghampiri.