Penulis: Irma Gustiana Andriani, M.Psi, Psi

 

Anak-anak belajar keterampilan interpersonal dan sosial berdasarkan pengalaman mereka di masa lalunya, umumnya berdasarkan hal-hal yang berhasil di capai. Misalnya ketika ia bayi, mungkin berteriak untuk memberi tahu orangtua mereka bahwa mereka lapar. Pengalaman itu membuat seorang bayi mengetahui bahwa ketika menjerit atau berteriak maka ia akan diberi makan, sehingga kemudian harinya ia akan melanjutkan perilaku tersebut. Sejalan dengan bertambah usianya, kemampuan anak berkembang termasuk dalam hal berbahasa dan berkomunikasi sehingga berteriak bukan lagi cara efektif dan tepat yang dilakukan anak saat ia lapar atau menginginkan makanan. Dengan dorongan yang tepat, anak-anak akan belajar bahwa menggunakan kalimat termasuk kata 'tolong' untuk meminta makanan mungkin merupakan strategi terbaik mereka untuk sukses.

 

Namun, keterampilan interpersonal bukan hanya sebatas dialog sederhana yang dilakukan di rumah bersama orangtua, namun lebih kompleks daripada itu seperti bersikap sopan santun dan mau mendengarkan. Ketika anak-anak mengembangkan keterampilan komunikasi, maka keterampilan interpersonal dan sosial mereka juga matang. Banyak orangtua khawatir bahwa anak mereka (terutama anak pertama atau satu-satunya) kurang memiliki keterampilan sosial atau interpersonal, atau anak bungsu yang dianggap kurang terampil. Hal ini adalah sebuah pemahaman yang kurang tepat, karena posisi kelahiran tidak menentukan keberhasilan anak dalam berketerampilan sosial.

 

Beberapa tanda anak mengalami kesulitan dalam berinteraksi sosial: 

 

  1. Mereka memiliki masalah dalam membuat pertemanan dan menjaga hubungan dengan teman dekat.
  2. Mereka adalah korban dari intimidasi atau ejekan yang berlebihan (anak seringkali di bully).
  3. Mereka umumnya terlalu mendominasi atau terlalu pasif dalam penyelesaian masalah dan penyelesaian konflik.
  4. Mereka tidak berperilaku sesuai dalam situasi kelompok. Di sekolah, guru biasanya dapat mengobservasi sifat-sifat tersebut.
  5. Mereka sering salah memahami percakapan dan membuat komentar yang tidak relevan atau tidak pantas.
  6. Mereka salah memahami ekspresi wajah dan tanda-tanda non-verbal lainnya dan membuat komentar atau gerakan yang tidak pantas.
  7. Mereka merasa sulit untuk memahami humor atau menggunakan humor dalam percakapan.
  8. Mereka sering menginterupsi pembicaraan.

 

Sementara itu, anak-anak yang memiliki kemampuan interpesonal yang baik akan menunjukkan perilaku, antara lain: 

 

  1. Mampu mengkomunikasikan isi pikirannya dengan bahasa sederhana sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
  2. Mau menunggu giliran ketika terlibat aktivitas yang membutuhkan kegiatan mengantri atau bergantian. 
  3. Aktif, tetapi tidak menunjukkan sikap yang dominasi dalam kelompok pertemanannya. 
  4. Mau mendengarkan orang lain atau temannya saat berbicara.
  5. Menunjukkan emosi yang positif, mengekspresikan diri dengan tepat.
  6. Cukup patuh terhadap aturan atau norma yang berlaku disekelilingnya.
  7. Berani dan percaya diri.

 

Nah, jika ciri-ciri di atas belum muncul dalam perilaku anak sehari-hari, ada baiknya untuk segera berikan stimulasi tepat terkait keterampilan sosialnya. Bila anak terlihat ada kendala, coba lakukan konsultasi dengan pakar tumbuh kembang agar diberikan treatment yang tepat, misalnya pada anak yang diduga alami Autisme atau Aspesper Syndrome.

Baca Juga