Penulis: Irma Gustiana Andriani, M.Psi, Psi

Sebenarnya mogok sekolah bisa terjadi di rentang usia manapun sejak ia mulai mengenal aktivitas bersekolah dan dapat terjadi pada level pendidikan mulai dari pra sekolah bahkan sampai jenjang perkuliahan. Intensitas kemunculannya bisa bervariasi, ada yang hanya sesekali mogok atau bahkan ada masuk dalam kategori school phobia, yaitu ketakutan yang berlebihan atau kecemasan yang tinggi pada hal-hal yang terkait dengan sekolah, biasanya disertai dengan keluhan keluhan fisik seperti sakit perut, pusing, mual. Umumnya keluhan akan menghilang jika anak libur sekolah.

 

Menolak sekolah menunjukkan adanya indikasi masalah yang perlu diwaspadai oleh orang tua. Biasanya anak yang memang memiliki kecemasan cukup tinggi, akan lebih mudah mengalami hambatan dalam bersosialisasi, salah satunya adalah kegiatan bersekolah. Misalnya saja anak mengalami :

-   Separation anxiety, atau perasaan cemas berpisah dari figur orang tua. Fase-fase awal bersekolah, sekitar 1-6 bulan menjadi masa yang agak sulit bagi anak yang pencemas atau sulit adaptasi sehingga memungkinkan munculnya masalah mogok sekolah.

-     Di-bully atau diintimidasi oleh teman, guru atau warga sekolah lainnya. Pengalaman yang kurang menyenangkan diejek, dicela, diintimidasi umumnya akan membuat anak menjadi tidak nyaman dan ketakutan, sehingga anak cenderung akan menolak kembali ke lingkungan tersebut.

-  Kesulitan belajar. Anak-anak yang memiliki masalah atau gangguan belajar, biasanya mengalami kesulitan untuk memahami materi yang diajarkan. Namun mereka tidak berani untuk mengungkapkan kesulitannya pada guru, pada akhirnya untuk menghindari kesulitannya tersebut anak menunjukkan reaksi menolak ke sekolah.

-   Tekanan dari pihak keluarga. Orang tua yang penuntut dan menginginkan anak selalu memiliki prestasi yang tinggi, dapat menyebabkan anak mengalami kelelahan secara mental. Pada akhirnya, anak dapat menunjukkan kelelahannya tersebut dengan cara mogok sekolah. Di rumah juga ditandai dengan aktivitas mogok belajar.

Sebagai orang tua, memang sangat perlu untuk menggali informasi mengenai kendala yang dihadapi anak. Hal itu bisa dilakukan dengan berbagai cara, antara lain yang paling efektif dengan cara mengajaknya bicara secara personal, bisa dilakukan malam hari menjelang akan tidur anak diajak bercerita diatas tempat tidur dengan santai. Selain itu, dengan metode mendongeng, anak akan lebih mudah untuk mengungkapkan isi pikirannya. Untuk anak yang gemar menggambar, ia bisa menggambarkan situasi sekolahan sebagai alat untuk mengkomunikasikan isi pikirannya. Usahakan juga untuk tidak mencecar anak dengan berbagai pertanyaan yang justru akan membuatnya merasa bersalah.

Dari pihak sekolah, juga sebaiknya menunjukkan itikad baik dengan menunjukkan kepeduliannya pada anak yang mogok sekolah, yaitu dengan mencari tahu keadaan si anak ke orang tuanya. Selain itu, sebaiknya guru sekolah melakukan pendekatan personal kepada si anak yang mogok tersebut. Berkunjung ke rumah, menunjukkan perhatian kepada anak tersebut namun tidak mencecarnya dengan banyak pertanyaan.  Sementara itu, teman-teman yang lain bisa juga membuat kartu ucapan yang memotivasi anak untuk kembali datang sekolah. Guru juga perlu meyakinkan kepada anak, bahwa teman-teman di sekolah sangat menanti kehadirannya untuk bermain bersama-sama. Selain itu, guru juga harus mencari tau dan peka terhadap masalah yang mungkin menjadi penyebab anak menolak sekolah.

Yang paling penting untuk diperhatikan orang tua adalah sikap positif yang harus ditunjukkan saat anak mogok sekolah, berikut adalah beberapa hal yang harus dihindari, yaitu:

-       Hindari untuk menekan anak seperti menyalahkan anak, membandingkan anak dengan teman atau anak lain, memarahi atau bahkan menunjukkan rasa kesal karena anak mogok sekolah.

-      Memaksa dan mengancam anak dengan berbagai cara untuk membuatnya bersekolah apalagi dengan cara-cara yang kasar misalnya, “awas ya kak kalau kamu gak sekolah”.

-    Memberikan gambaran yang kurang menyenangkan mengenai sekolah, yang nantinya justru akan membuat anak semakin cemas, misalnya “nanti kalau kakak gak sekolah, Bu guru bisa marah lho”, atau “nanti teman-teman gak mau main lagi sama kakak”.