Semua orang tua pasti pernah menemui kondisi anak yang batuk, terutama saat sudah mulai bersekolah. Lalu, bagaimana cara mencegahnya?

 

Bagi semua orang tua, batuk adalah salah satu masalah yang paling sering ditemui pada anak. Saat si Kecil mulai bersekolah, biasanya batuk pun akan semakin sering terjadi.

 

Belum lagi saat musim kemarau, membuat debu semakin mengepung dan mengganggu pernapasannya. Lalu, bagaimana cara mencegah agar anak tak terserang batuk?

 

Meski sering dianggap sebagai penyakit, batuk sebenarnya hanyalah gejala. Ada cukup banyak penyakit yang dapat menimbulkan gejala batuk, tapi umumnya berhubungan dengan paru-paru atau saluran pernapasan.

 

Jenis dan penyebab batuk

Batuk dapat dibedakan berdasarkan jangka waktunya, yaitu:

 

  • Batuk akut, yaitu batuk yang terjadi selama dua minggu atau kurang.
  • Batuk kronis, yaitu batuk yang paling sedikit berlangsung selama empat minggu.  

 

Keduanya memiliki penyebab yang berbeda. Namun pada batuk akut, penyebab paling umum adalah infeksi virus pada saluran pernapasan seperti akibat selesma (common cold), bronkitis akut, influenza, dan croup. Kondisi ini sering kali diawali gejala pilek dan flu, seperti hidung tersumbat dan meler.

 

Khusus pada anak sekolah, mereka jadi rentan terkena batuk karena sering berkumpul dan berkegiatan di tempat yang sama dengan begitu banyak orang. Mulai dari teman sekolah, guru, hingga staf sekolah lainnya. Alhasil, jika ada satu anak yang sakit, maka dapat dengan mudah menulari anak lainnya.

 

Batuk yang disebabkan infeksi saluran pernapasan juga sangat umum terjadi pada anak-anak. Diperkirakan, si Kecil dapat mengalami 6-12 kali infeksi saluran pernapasan setiap tahunnya.

 

Hal ini sama saja dengan mengalami keluhan batuk setiap sebulan atau dua bulan sekali. Kurang lebih 50 persen anak akan sembuh dalam jangka waktu 10 hari, sementara sebagian kecil (sekitar 10 persen) lainnya dapat terus mengalami batuk sampai 25 hari.

 

Musim kemarau seperti sekarang ini juga bisa turut berkontribusi akan hal tersebut. Sebab, debu yang beterbangan sangat berpotensi dalam mengganggu pernapasan si Kecil, terutama saat berolahraga atau beraktivitas fisik di luar ruangan.

 

Jadi, walaupun batuk tetap ada selama 2-3 minggu, belum tentu merupakan masalah kesehatan yang serius. Meski khawatir, perlu juga diingat bahwa penyebab utamanya adalah infeksi virus.

 

Oleh sebab itu, pada kebanyakan kasus, antibiotik tidak diperlukan untuk mengobati batuk pada si Kecil. Sebab, perlu dipahami bahwa infeksi virus umumnya dapat sembuh dengan sendirinya (merupakan self-limiting disease).

 

Penelitian juga tidak berhasil membuktikan efektivitas obat batuk yang dapat dibeli bebas dalam mengatasi batuk akut pada si Kecil.

 

Batuk sendiri merupakan mekanisme penting untuk membersihkan saluran pernapasan dari dahak, serta bisa membantu mempercepat proses penyembuhan dari infeksi. Jadi, tak perlu buru-buru membeli berbagai macam obat batuk.

 

Apabila batuk sudah sampai mengganggu waktu tidur si Kecil, maka pemberian obat batuk dapat mulai dipertimbangkan.

 

Lakukan ini untuk mengatasi dan mencegah batuk pada anak

Jadi, sebagai orang tua, apa yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi batuk pada si Kecil dan membuatnya tetap nyaman? Berikut beberapa di antaranya:

 

  • Pastikan si Kecil cukup beristirahat.
  • Berikan si Kecil banyak minum. Berbeda dengan anggapan umum, minuman dingin justru dapat membuat tenggorokan si Kecil lebih nyaman. Namun, hindari pemberian minuman bersoda atau jus jeruk yang berpotensi membuat tenggorokan nyeri.
  • Si Kecil dapat diberikan terapi suportif, misalnya penurun panas jika mengalami demam.
  • Uap dapat membantu mengencerkan dahak dan melegakan pernapasan si Kecil. Coba nyalakan air panas di kamar mandi hingga ruangan beruap, lalu duduk dengan anak di kamar mandi selama 20 menit. Anda juga dapat mencoba membeli humidifier dan memasangnya saat si Kecil tidur di malam hari.
  • Pemberian madu untuk mengatasi gejala batuk memang cukup populer. Namun, penelitian tidak berhasil menyimpulkan apakah pemberian madu perlu disarankan atau dihindari.  Madu sebaiknya tidak diberikan pada si Kecil di bawah usia 1 tahun.

 

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Oleh sebab itu, ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk mencegah timbulnya batuk pada si Kecil, yaitu:

 

  • Menjaga daya tahan tubuh si Kecil dengan memberinya makanan bergizi seimbang, membiasakan beraktivitas fisik, serta cukup beristirahat

 

  • Mengajarkan si Kecil untuk tidak membiasakan menyentuh area mata, mulut, dan hidung, yang merupakan salah satu cara kuman untuk masuk dan menginfeksi tubuh.

 

  • Mengajarkan si Kecil untuk rutin mencuci tangan, baik dengan sabun dan air maupun hand-sanitizer.

 

  • Mendorong sekolah untuk menerapkan tindakan pencegahan infeksi. Misalnya dengan mengajarkan etika batuk dan bersin yang baik pada para siswa – seperti menutupi mulut dan hidung ketika batuk atau bersin, menggunakan masker saat sedang batuk. Penting juga melatih kebiasaan menjaga kebersihan tangan.

 

Dengan mengetahui jenis dan penyebabnya, kini Anda tidak perlu selalu panik saat anak batuk. Anda juga harus selalu sigap untuk mengatasi dan mencegahnya, terutama saat musim ajaran baru sekolah dan musim kemarau seperti sekarang ini.

 

Baca Juga