Penulis: Irma Gustiana Andriani, M.Psi, Psi

 

Kecil-kecil kok pelupa? Entah itu lupa membawa tugas sekolah, lupa menyimpan sesuatu dan sebagainya. Sebenarnya apa yang terjadi pada si kecil ya?

 

Anak yang cenderung pelupa umumnya memang akan menghambat ia dalam melakukan berbagai aktivitas terutama disekolah. Pelupa sebenarnya bisa menjadi sesuatu yang klinis jika frekuensi kemunculannya makin sering. Dalam buku “Diagnostic Criteria from DSM IV” yang umum digunakan oleh psikolog untuk mendiagnosa gejala psikologis dikatakan bahwa Lupa adalah salah satu indikasi adanya gangguan konsentrasi dan hiperaktivitas (ADHD tipe Inatensi). Apabila kemunculannya terjadi selama 6 bulan berturut-turut, terjadi tidak hanya di sekolah namun juga dibeberapa situasi lain, dan munculnya sebelum usia 7 tahun. Jika tidak ada intervensi, biasanya perilaku menguat akan tampak pada anak-anak yang sudah menginjak usia sekolah formal. Pelupa biasanya berkorelasi dengan sulit konsentrasi sehingga cenderung kurang terorganisir dalam melakukan kegiatannya. 

 

Dari beberapa literature disebutkan adanya beberapa penyebab munculnya gangguan pelupa:

  1. Anak memang terindikasi mengalami gangguan pemusatan perhatian atau ADD/ADHD tipe Inatensi. Biasanya akan berkorelasi dengan perilaku hiperaktivitas
  2.  Stress atau banyaknya tekanan dan tuntutan dari lingkungan umumnya akan mempengaruhi keadaan psikologisnya. Misalnya saja tuntutan akademik yang terlalu tinggi, sehingga anak akan mudah cemas dan panic. Apalagi jika tidak ada kesempatan untuk bermain. 
  3. Fungsi intelektual yang terbatas, biasanya juga akan menghambat anak dalam menunjukkan kinerjanya. Misalnya daya ingat rendah atau karena anak tergolong anak lambat belajar sehingga membutuhkan waktu untuk mempelajari dan mengingat informasi dalam waktu yang lama. 
  4. Ketiadaan minat pada suatu kegiatan atau mata pelajaran tertentu juga mempengaruhi anak, sehingga cenderung melupakan hal-hal yang tidak menjadi minatnya. 

 

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan orangtua untuk mengatasi sikap pelupanya:

  1. Cek fungsi psikologisnya, karena ada kemungkinan anak memang mengalami gangguan konsentrasi sehingga cenderung pelupa terhadap hal-hal yang perlu dan harus ia lakukan
  2. Cek keadaan biologisnya, apakah ada kemungkinan anak mengalami gangguan fungsi syaraf atau kekurangan zat besi sehingga menyebabkan adanya masalah pada konsentrasinya. 
  3. Membantu anak untuk lebih teroganisir, misalnya membuat table atau jadual rutinitas harian yang harus dilakukan anak. Ajari anak juga untuk membuat catatan disebuah buku khusus agar anak dapat melakukan pencatatan mengenai apa yang harus ia lakukan. 
  4. Evaluasi kegiatan harian, dilakukan pada malam hari untuk melakukan cek dan ricek mengenai tugas atau tanggung jawab yang harus ia kerjakan. 
  5. Hindari untuk bersikap “mengancam” anak atau menghukum anak ketika ia lupa apa yang harus ia lakukan. 
  6. Mengarahkan anak untuk mengikuti kegiatan olahraga tertentu yang akan merangsang konsentrasinya misalnya berenang atau bersepeda
  7. Berikan kesempatan anak untuk bermain, karena hal itu juga akan mengurangi kecemasan dan perasaan tertekan karena banyaknya tugas yang harus dikerjakan. 

 

Yang paling memungkinan bisa dilakukan oleh orang-orang yang ada disekitarnya, terutama disekolah adalah mengingatkan anak untuk melakukan cek dan ricek, guru sebaiknya mengulang kembali secara personal mengenai hal-hal yang harus ia lakukan dengan melakukan refleksi kepada anak, menempatkan anak diposisi duduk yang dekat dengan guru agar memudahkan guru dalam berinteraksi dengan anak. 

 

Orangtua perlu bersikap waspada jika:

-Kemunculkan perilaku makin sering setiap harinya, terutama untuk hal-hal yang seharusnya menjadi rutinitasnya

- anak seringkali lupa dengan barang-barang personalnya sendiri misalnya alat tulis, kotak makan, tempat minum dan lain sebagainya. Dan ketika ditanya anak sulit untuk mengingat kembali dimana ia meletakkan barang-barang tersebut

- jika nilai-nilai akademiknya menurun dengan cukup signifikan.

- banyak melamun atau “bengong” terutama ketika sedang belajar

 

Jika kemunculannnya semakin kuat maka ada beberapa therapy yang bisa dilakukan untuk meningkatkan focus anak. Salah satunya dengan mengikuti terapi Sensory Integrasi, Hydrotherapy atau ProblemSolving Therapy. 

 

 

Baca Juga