Penulis: Irma Gustiana Andriani, M.Psi, Psi

 

Si kecil kerap terlihat sedang menggigit kukunya. Bahkan sampai bentuk kukunya tampak tidak normal saking seringnya. Ada apa, ya?

 

Menggigit kuku adalah suatu kebiasaan yang paling sering muncul di usia kanak-kanak, bahkan akan terus berlanjut saat mereka beranjak dewasa. Biasanya kebiasaan ini muncul pertama kali disaat usia 4 sampai 6 tahun. Menggigit-gigit kuku pada anak umumnya dilakukan karena anak sedang dalam keadaan bosan, tertekan, imitasi atau meniru, kebiasaan, eksplorasi diri atau mengalihkan rasa cemas terhadap sesuatu. Menggigit kuku sering pula dikategorikan sebagai “kebiasaan yang dilakukan saat keadaan cemas”, sama halnya dengan kebiasaan lain seperti menarik-narik rambut, menggeretakkan gigi, mengorek hidung dan lain sebagainya. 

 

Beberapa faktor yang melatarbelakangi munculnya kebiasaan menggigit kuku yaitu: 

  1. Faktor genetika. Dalam beberapa penelitian ditemukan fakta bahwa peran genetika cukup berpengaruh pada munculnya intensitas kebiasaan menggigit kuku. Salah satu atau kedua orangtua memiliki kebiasaan menggigit kuku, maka kemungkinan anak akan memiliki kebiasaan yang sama semakin besar. 
  2. Faktor imitasi. Semakin sering anak melihat lingkungannya melakukan kebiasaan tersebut, kemungkinan munculnya perilaku yang sama juga semakin besar.
  3. Anak dalam keadaan tertekan atau stress, dimana membutuhkan pengalihan untuk meluapkan rasa tertekannya. Dengan menggigit kuku, anak mendapatkan kesempatan untuk melepaskan ketegangannya. Beberapa peristiwa kurang menyenangkan yang memperkuat munculnya kebiasaan menggigit kuku antara lain perceraian orangtua,  anak yang sulit adaptasi ditempat yang baru, anak yang kurang percaya diri, bullying, penganiayaan atau kekerasan yang dialami anak.
  4. Kebiasaan yang diawali dengan sekedar “iseng”, kemudian secara tidak disadari anak menemukan rasa nyaman dengan menggigit kuku tersebut. Akibatnya saat anak dalam keadaan yang sedang bosan atau tidak memiliki aktivitas yang berarti makan kebiasaan ini akan muncul. 

 

Ketika anak semakin beranjak besar dan bertumbuh, maka lingkungan merupakan hal yang mengancam dan seringkali menimbulkan perasaan tegang dan tertekan, untuk itu anak akan mencari cara-cara mempertahankan diri dan membuatnya merasa secure (nyaman). Bagi beberapa anak, menggigit kuku menimbulkan sensasi yang berbeda seperti rasa nyaman dan aman, terutama karena ia telah berhasil mengalihkan perasaan yang tidak nyaman dengan aktivitas tersebut. 

 

Secara psikologis, kebiasaan tersebut masih dapat dikatakan normal atau wajar jika tidak menghambat fungsi kehidupannya sehari-hari. Anak masih dapat melakukan aktivitasnya dan tetap produktif. Misalnya saat anak terlihat menggigit kuku ketika menonton televise atau saat ia merasa kaget dengan situasi baru, hal itu masih dapat dikategorikan normal. Karena ia sedang berusaha mengatasi kebosanan atau ketegangannya. Akan tetapi, jika kebiasaan menggigit kuku sampai melukai dirinya sendiri misalnya berdarah dibagian ujung-ujung kuku, maka hal itu dapat dikategorikan sebagai suatu yang abnormal. Bahkan ada pula yang sampai menghambat produktivitasnya sehari-hari. Jika menemukan hal tersebut, segeralah bertindak untuk mengatasi masalahnya.

 

Hal yang perlu diperhatikan orangtua untuk menyikapi kebiasaan menggigit kuku:

  1. Memberikan pengertian kepada anak mengenai dampak buruk dari menggigit kuku, misalnya saja akan menyebabkan sakit perut yang diakibatkan oleh kotoran yang ada disekitar kuku dan jarinya. 
  2. Memberikan batasan akan lebih baik dibandingkan dengan memberikan hukuman, misalnya dengan mengingatkannya “tidak menggigit kuku saat dimeja makan”. Dengan menetapkan batasan maka anak akan memahami bahwa menggigit kuku tidak boleh dilakukan.
  3. Membantu anak untuk menyadari kebiasaannya tersebut. Ingatkan dirinya secara terus menerus bahwa kebiasaan menggigit kuku adalah sesuatu yang kurang baik. Alihkan kebiasaan tersebut dengan melakukan serangkaian aktivitas seperti berolahraga, bermain clay, lego, puzzle, painting dan lain sebagainya.
  4. Mengindentifikasi kecemasannya. Cobalah untuk menggali keresahan anak. Jika orangtua sudah mampu untuk mengindentifikasi mengenai penyebab kecemasan anak, maka akan lebih mudah untuk menyelesaikan masalahnya. Misalnya saja karena anak merasa kurang percaya diri disekolah yang baru, maka orangtua dapat memberikan dorongan atau motivasi secara konsisten untuk membangun kepercayaan dirinya. 

 

 

 

 

Baca Juga