dr. Reza Fahlevi (Redaksi klikdokter.com)

Perhatikan tanda dan gejala anemia pada anak berikut ini.

Tidak hanya orang dewasa, anak juga dapat mengalami anemia, atau kurangnya kadar hemoglobin dalam darah. Anemia dapat disebabkan oleh berbagai hal dan penyebab yang paling sering adalah kekurangan zat besi (anemia defisiensi zat besi).

Zat besi merupakan salah satu komponen penting dalam pembentukan hemoglobin dalam darah. Hemoglobin berfungsi untuk mengangkut oksigen dari paru dan diedarkan ke seluruh tubuh. Kekurangan zat besi dalam tubuh akan mengganggu pembentukan hemoglobin sehingga tubuh tidak dapat memproduksi hemoglobin dengan jumlah yang cukup sesuai kebutuhan.

Mengapa anemia defisiensi zat besi dapat terjadi?
Anemia defisiensi zat besi cukup sering terjadi pada anak-anak, terutama balita dan remaja. Anemia ini banyak dialami di negara-negara berkembang, salah satunya Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian, sebanyak 40–45% balita Indonesia mengalami anemia defisiensi zat besi. Bahkan pada anak di bawah 1 tahun, angka anemia defisiensi zat besi mencapai lebih 60%. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Asupan zat besi yang kurang dalam makanan merupakan pemicu tingginya angka anemia defisiensi zat besi pada anak di Indonesia. Selain itu, laju pertumbuhan yang sangat cepat pada remaja serta menstruasi pada remaja putri juga merupakan pencetus anemia defisiensi zat besi pada kelompok usia remaja.

Gejala anemia defisiensi zat besi pada anak
Ketika tubuh kekurangan zat besi, pertama tubuh akan mengambil cadangan zat besi dalam jaringan tubuh terlebih dahulu untuk mempertahankan pembentukan hemoglobin dengan jumlah cukup. Jika cadangan besi dalam tubuh sudah sangat menipis dan tidak mampu lagi mengompensasi, pembentukan hemoglobin dalam darah akan berkurang dan terjadilah anemia defisiensi zat besi yang menimbulkan berbagai gejala.

Gejala yang ditimbulkan dapat bervariasi sesuai dengan derajat anemia yang terjadi, mulai dari anemia ringan hingga anemia berat. Tanda dan gejala anemia defisiensi zat besi pada anak, antara lain:

  • Lemah, letih, lesu
  • Kulit pucat, terutama pada telapak tangan, kuku, dan kelopak mata
  • Nafsu makan menurun
  • Rewel
  • Pusing
  • Sering berdebar

Terkadang, pada kasus yang jarang sekali, anak dengan anemia defisiensi zat besi dapat mengalami gejala pica. Ini adalah kebiasaan memakan atau mengunyah benda-benda yang bukan makanan seperti pensil, kapur, rambut, atau sampah.

Bagaimana solusinya?
Seperti telah dijelaskan di atas, anemia defisiensi zat besi pada anak terjadi melalui proses yang panjang. Untuk itu, sebenarnya tindakan pencegahan anemia defisiensi dapat dilakukan sejak dini sebelum anak jatuh dalam keadaan anemia. Pencegahan sangat penting karena begitu anak mengalami anemia defisiensi zat besi, salah satu dampak yang dapat terjadi adalah penurunan tingkat kecerdasan anak.

Pencegahan anemia defisiensi zat besi perlu dilakukan sejak bayi, yaitu dengan memberikan makanan pendamping ASI (MPASI) yang kaya zat besi. Pilihan makanan yang dapat diberikan adalah bubur tepung beras yang sudah difortifikasi zat besi untuk awal pemberian.

Selanjutnya anak dapat disajikan bahan makanan yang kaya zat besi seperti daging sapi, hati, daging ayam, ikan, serta sayur-sayuran hijau dan buah. Suplementasi besi penting diberikan kepada bayi dan balita, terutama pada bayi yang lahir prematur, berat badan lahir rendah, dan balita dengan gizi kurang atau buruk.

Apabila sudah terjadi anemia defisiensi zat besi, Anda perlu membawa anak ke dokter untuk pemeriksaan yang lebih lengkap. Jika memang benar anak mengalami anemia akibat kekurangan zat besi (bukan penyebab lain), dokter akan memberikan terapi zat besi selama 3–6 bulan. Terapi ini cukup lama karena selain untuk mencukupi kebutuhan zat besi demi pembentukan hemoglobin, juga bermanfaat untuk mengembalikan cadangan zat besi dalam jaringan tubuh anak.

[RS/ RH]