Penulis: Irma Gustiana Andriani, M.Psi, Psi

Meminta maaf memang tidak hanya dilakukan pada saat tertentu saja misalnya saat memasuki bulan suci Ramadan atau saat hari raya saja. Namun, maaf memaafkan haruslah menjadi suatu kegiatan yang berkesinambungan dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi bagian dari pribadi anak. Biasanya anak-anak yang sejak dini tidak pernah dikenalkan orangtuanya mengenal makna maaf-memaafkan, mereka cenderung akan tumbuh menjadi pribadi yang kurang memiliki empati, egois atau memaksakan kehendaknya sendiri, kurang mampu menerima kritik atau saran, arogan (sombong), kurang bisa diterima secara sosial oleh suatu kelompok, dan sulit dipercaya oleh orang lain. Sebaliknya anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan yang konsisten dalam mengajarkan mereka mengenai makna maaf, umumnya anak-anak tersebut akan menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan disukai oleh kelompoknya.

Untuk membentuk anak menjadi pribadi yang memahami dan mengerti makna memaafkan, maka dukungan dan peran orangtua sangatlah penting. Beberapa hal yang perlu dilakukan orangtua untuk melatih anak memahami makna maaf antara lain:

 

1.     Menjadi Role Model dan contoh bagi anak

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa anak-anak merupakan peniru ulung atau handal. Mereka dapat dengan cepat menyerap apa yang ia lihat, dengar dan alami sendiri. Mereka cenderung akan meniru apa yang dilakukan oleh lingkungan sekitarnya, terutama orangtuanya. Ayah dan Ibu harus saling memaafkan jika salah satunya membuat kekeliruan atau kesalahan. Saat orangtua melakukan kesalahan kepada anak, sebaiknya juga segera meminta maaf.  Memberikan contoh dalam hidup sehari – hari akan mempermudah anak untuk meniru sikap memaafkan.

 

2.     Berikan alasan mengapa ia harus meminta maaf

Alasan mengapa harus memaafkan, perlu orangtua utarakan kepada anak. Berikan penjelasan mengapa ia harus memaafkan dengan cara sesederhana mungkin, seperti bagaimana ia melihat bahwa teman atau saudaranya tidak sengaja melakukan kesalahan. Dengan melihat alasan yang masuk akal, tentunya anak akan cepat belajar memaafkan orang lain juga. Jika ia belum paham, tidak mengapa karena anak perlu proses untuk bisa memahami makna maaf seutuhnya

 

3.     Anak tidak segera minta maaf, berikan ia waktu

Setiap orang pastinya membutuhkan waktu untuk meminta maaf atau memaafkan. Begitupuan dengan anak-anak, karena kebanyakan dari mereka biasanya tidak segera akan meminta maaf jika bersalah. Hindari memaksa anak untuk langsung meminta maaf atau memaafkan pada saat itu juga. Semakin dipaksa untuk meminta maaf, semakin sulit bagi anak untuk melakukannya. Karena paksaan merupakan sesuatu yang tidak menyenangkan, maka hal itu tak akan diulangi lagi. Atau, kalaupun mau, anak akan meminta maaf dengan terpaksa, tidak tulus. Untuk itu sebaiknya orangtua memberikan ia waktu untuk berpikir dan meminta maaf, namun jangan sampai ia menjadi lupa terhadap kesalahan yang ia buat.

 

4.     Berikan pujian

Selalu memberi pujian setiap kali melakukan pembelajaran. Memberi pujian merupakan motivasi yang besar untuk anak mengulangi tindakan yang diharapkan orangtuanya. Bila si kecil belum berhasil melakukan hal memaafkan, Anda tetap bisa melakukan pujian yang sifatnya mendorong anak untuk melakukannya di kemudian hari. Misalnya,”tidak apa-apa, Sayang. Kamu tetap kebanggaan Bunda. Tapi lebih membanggakan lagi kalau besok kamu sudah mau memaafkan temanmu, ya…” Dan berikan senyuman yang tulus agar anak merasa ia tetap disayangi.

 

5.     Menumbuhkan empati anak

Mengembangkan kemampuan anak dalam berempati merupakan salah satu cara yang tepat. Misalnya ketika anak berbuat salah, “kakak sudah mendorong adik sampai jatuh, coba kakak bayangkan kalau kakak yang didorong seperti itu bagaimana?”. Cara ini sebenarnya akan membuat anak berpikir, jika ia berada di posisi tersebut. Memang kita tidak akan segera mendapat jawaban atas pertanyaan yang kita ajukan tersebut tetapi paling tidak ia mengetahui perbuatannya tersebut telah mengganggu orang lain.

Baca Juga